Media Dakwah Digital

Artificial Intelligence tidak menyediakan wadah bagi orang yang punya kapasitas tertentu untuk berdakwah. Semua punya peran dan fungsi yang sama di pasar media sosial. Mereka yang menawarkan dagangan menarik akan mudah mendapat atensi dari masyarakat luas, meski tanpa diketahui taraf keilmuannya. Makanya banyak yang cenderung mengejar popularitas dulu sebelum meningkatkan kualitas.

Ketika sudah punya pengaruh dan bisa mempengaruhi banyak orang, barulah melakukan prosesi peningkatan kualitas ilmu dan iman sebagai syarat dasar menjadi pendakwah. Jamaah atau masyarakat menjadi korban kegagapan ilmu pengetahuan pendakwah ketika menjelaskan agama yang rancu dan keliru. Apalagi kekeliruan tersebut dianggap sebagai kebenaran mutlak yang sering berseberangan dan menimbulkan konflik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dakwah di era digital harus fokus mempertimbangkan keilmuwan seorang pendakwah. Membagiakan kajian sesuai kapasistas pengetahuannya. Tidak boleh memaksa lantaran status popularitas dan sandangan gelar ustaz atau ulama. Media merupakan alat yang bisa membantu ketika dimanfaatkan dengan baik, sebaliknya bisa menimbulkan malapetaka ketika salah digunakan.

Media dakwah digital mulai tersebar di banyak platform media sosial. Banyak tokoh yang muncul tanpa standarisasi pendakwah yang kompeten. Mengandalkan visual dan popularitas yang dicapai bukan sebab kepakaran, melainkan pengaruh alogaritma yang menjadikannya tokoh berpengaruh.

Saat ini, bukan hanya manusia yang mudah diatur dan dipengaruhi oleh media, agama dan keyakinan pun bisa dikontrol oleh media. Entah ingin dibuat konflik atau perang sekalipun. Manusia yang terlanjur “terhipnotis” akan kehilangan akal sehat sebab susahnya keluar dari candu media digital. Mari melihat perspektif yang lebih luas tentang media dakwah digital yang berperan penting terhadap perubahan peradaban.

Tinggalkan Balasan