Media Dakwah Digital

Perang narasi, adu argumen, dan caci maki mewarnai riuh media sosial sebab ketidakmauan menerima perbedaan pandangan. Pendakwah juga banyak yang tidak berperilaku sebagai seorang tokoh spiritual yang mementingkan persatuan daripada perpecahan. Penyataan provokatif sering menyulut konflik yang jika dikelola bisa menjadi perdebatan nasional. Media sedikit-banyak menghilangkan esensi dakwah yang mengajak pada kedamaian namun dimanipulasi menjadi ajakan kekerasan.

Risiko Artificial Intelligence

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan adalah produk teknologi yang bisa mengancam manusia itu sendiri sebab ketidakmampuan untuk mengendalikannya. Aktivitas pengguna direkam menggunakan sistem tertentu yang datanya diolah oleh mesin untuk mempengaruhi (menaklukan) konsumen media digital. Kapitalisme media berhasil menguasai emosi hingga perilaku manusia modern dengan memanfaatkan algoritma media sosial.

Media sosial memberikan parameter kepuasan personal bagi pengguna melalui berbagai fitur yang ditawarkan. Sehingga nilai seseorang dilihat dari tingkat popularitas di media sosial. Bahkan banyak di antaranya aktif mengumbar sensasi agar diperhatikan banyak orang. Semuanya menjadi budak media sosial yang selalu butuh pengakuan dari yang lain.

Ketika popularitas dijadikan parameter kepakaran seseorang, maka kekacauan sosial akan sering terjadi. Dalam ranah agama yang sifatnya sensitif bisa mengubah paradigma banyak orang melalui dakwah-dakwah tanpa kompetensi yang memadai. Setiap orang bisa mengklaim dirinya sebagai pendakwah. Setiap orang juga punya potensi yang sama untuk mengikuti dan dipengaruhi oleh pola pikir “pendakwah abal-abal”.

Tinggalkan Balasan