Melacak Kembali Akar Terorisme di Indonesia

Abu Ezza dalam bukunya Pengantin Teroris: Memoar Jihad NA (2010), mengatakan, bahwa rata-rata para pelaku seringkali termotivasi dari doktrin-doktrin agama yang bernuansa radikal. Dari doktrin-doktrin religi inilah kemudian membentuk ideologi-ideologi keras yang bersifat kaku, yang pada akhirnya malah menjadi stimulus dan landasan teologis untuk melakukan aksi teror di hari-hari yang telah ditentukan nanti.

Memang tidak bisa dimungkiri, dari tahun ke tahun ruang gerak terorisme semakin meluas. Di tahun 2021 kemarin saja, tercatat ada dua kasus terorisme. Pertama, saat terjadi pengeboman di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan (28/03/2021); dengan model aksi bom bunuh diri. Kedua, terjadi di kompleks Mabes Polri Jakarta (31/03/2021); ketika seorang wanita berumur 25 tahun menyerang dengan menggunakan senjata api. Berdasarkan hasil penelusuran polisi, kedua kasus ini sama-sama berangkat dari kesalahan dalam beragama. Dengan kata lain, mereka (pelaku teror) mendapat suntikan motivasi akibat terjebak dalam interpretasi sebagian ajaran agamanya, dibantu dengan berbagai jejaring-jejaring yang sifatnya underground.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ironisnya, kesalahan dalam beragama ini oleh para teroris dianggap sebagai “jalan kebenaran”. Hal ini tentu kembali mengorek kesadaran kolektif kita, bahwa terorisme masih menjadi pekerjaan rumah untuk kita secara umum, dan untuk pemerintah secara khusus. Lebih-lebih, penyakit kronis bernama “terorisme” ini tidak hanya menjangkiti masyarakat biasa, tetapi sudah masuk dalam lapisan pemerintahan. Seperti kasus di atas, yang tercatat sebagai PNS di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang.

Lagipula, tenggang waktu yang relatif berdekatan (baca: Maret), dua kasus di atas sudah cukup untuk menjustifikasi bahwa terorisme di Indonesia menjadi problem terbesar terkait kekerasan atas nama agama. Dan bersyukur saja, Densus 88 Anti Teror kemarin dengan cepat melacak keberadaan seorang teroris, yang sewaktu-waktu tanpa kita ketahui akan melancarkan aksinya. Sehingga, hal-hal yang kita takuti dari dunia terorisme selama ini bisa sedikit teratasi.

Tinggalkan Balasan