Entah, keraguan akan adanya Tuhan itu akan kita nilai dan pertimbangkan sebagai apa dalam fase keberagamaan seseorang? Bapak agama-agama samawi pun, Nabi Ibrahim pernah dilanda kegelisahan yang demikian sebelum mengenal Tuhan Sejati.
Sebab pada akhirnya, cara seorang mengenal Tuhan akan berpengaruh besar terhadap cara mereka beragama di kemudian hari. Bila Tuhan hanya diyakini sebagai satu-satunya Yang Maha Angkuh maka tak heran bila agama hanya memproduksi peperangan dan melahirkan kaum beragama yang gemar saling menyerang satu sama lain atas nama aksi bela Islam dan bela Tuhan.

Contoh kasusnya yang terjadi dalam novel Hingga Pantai Seberang ini, yakni adanya kelompok ormas yang menyerang Sakinah Institute sambil berseru Allahu Akbar! karena dinilai telah mengajarkan kesesatan.
Padahal, tempat tersebut rutin mengadakan pengajian dan salat berjamaah bagi kalangan kaum waria dan marjinal lainya. Apakah Tuhan memang cukup tega enggan menerima amal dari para hambanya yang berbeda kasta dan kelamin sebagaimana yang diperjuangkan orang-orang ormas tersebut? Sedangkan Sakinah, pemimpin Sakinah Institute, seorang aktivis perempuan berpendidikan alumni Mesir itu berkeyakinan bahwa jalan ketuhanan itu bernama kemanusiaan. Dan agama bukan masalah bila ia adalah kesalehan pribadi. Agama adalah masalah bila ia adalah kekuasaan (hlm. 153).
Lantas terjadinya tindak kekerasan, brutalitas, dan kekejaman yang mengatasnamakan agama (kepentingan kelompok untuk berkuasa) kerap melahirkan asumsi negatif tentang agama itu sendiri. Agama yang seharusnya menjaga dan melindungi marwah kemanusiaan justru terkesan hadir sebagai penghancur dan pengobrak-abrik kemanusiaan. Bukankah diperintahkannya salat dalam Islam yang menjadi tiang dan ritual utama agama supaya manusia mampu mengendalikan diri dari tindak kejahatan dan kekejian, bukan? Benarkah agama memang bertentanggan dengan kemanusiaan?
