Mita, perempuan bengal itu memiliki cara pandang yang berbeda tentang Tuhan dan agama. Di dalam kebudayaan yang feodalistik, Tuhan sering dipersepsikan sebagai Tuan Tanah yang berkuasa, absolut, otoriter dan manusia sebagai budak harus takut, tunduk, dan bahkan kadang menjilat supaya Dia senang dan kita hidup aman. Doktrin akan semangat jihad dan hadiah surga yang kerap disalahpahami oleh kaum beragama barangkali layak kita sebut sebagai upaya mereka menjilat Tuhan sambil lalu diludahi tanpa sadar Wajah Tuhan itu oleh mereka karena telah menyakiti sesama bahkan membunuh sesama. Bagi Mita sudut pandang Tuhan Feodal yang demikian sangatlah berbahaya dalam tatanan keberagamaan dan kemanusiaan kita.
Baik Sakinah maupun Mita, keduanya sama-sama berangkat dari dasar konsepsi teologi yang lebih humanis, di mana agama tidak untuk dipertentangkan dengan kemanusiaan, maupun Tuhan versus manusia. Dengan demikian, ide tentang Tuhan dan agama tak lagi menjadi jurang pemisah antara manusia dengan manusia lainnya, pun tak akan membuat manusia lupa akan dirinya sendiri. Sebab tujuan diterapkannya syariat, norma-norma dalam agama itu sendiri jelas untuk kemaslahatan di antara umat. Maka, mereka yang mengaku beragama harus tetap konsisten berdiri kokoh di atas perlindungan hak dasar manusia yang meliputi; perlindungan agama (hifdz al-din), perlindungan jiwa (hifdz al-nafs), perlindungan akal (hifdz al-‘aql), perlindungan keturunan (hifdz al-nasl) dan perlindungan harta (hifdz al-maal), yang dalam Islam hak-hak tersebut dikenal dengan kulliyatul khams.

Setelah memahami sudut pandang yang lebih humanis tentang Tuhan dan agama dalam novel Hingga Pantai Seberang tersebut semoga masing-masing kita mampu beragama dengan penuh cinta dan riang gembira. Amin, wallahu a’lam bishawab.
Data Buku
Judul Buku : Hingga Pantai Seberang
Penulis : Aquarina Kharisma Sari
Penerbit : Jejak Publishing
Cetakan : Januari 2018
Tebal Buku : 335 Halaman
