Meluruskan Anarkisme

Selama ini kita dijerumuskan pada pemahaman konsep nonkritis, bahwa anarkisme adalah paham kekerasan dan kekacauan. Anarki dikategorikan sebagai laku kriminal, yang melahirkan kekacauan, kebrutalan, dan beragam aksi individu maupun masyarakat yang antidamai.

Padahal, dalam makna yang sebenarnya, anarkisme merupakan paham politik kebebasan individu maupun kelompok, tanpa hierarki kekuasaan maupun negara. Yang terjadi tak jauh berbeda dengan istilah radikalisme dan radikal yang selama ini dipandamg sebagai paham dan aksi kekerasan. Padahal, sebenarnya radikalisme adalah paham untuk mencari kebenaran hingga ke akar-akarnya, radiks, menemukan puncak kebenaran yang hakiki.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada kesempatan ini, kita akan berdiskusi soal arti dan tujuan sebenarnya dari filsafat politik anarkisme. Sebagai bagian dari pembentukan nilai anarkisme yang sesungguhnya, termasuk juga untuk membangun aliansi pemikiran dalam khazanah ilmu pengetahuan. Agar makna anarkisme kembali kepada arti awal, tidak semata berkelindan dalam dunia kekacauan dan kekerasan.

Anarkisme sebagai paham filsafat politik mempunyai nilai sosial yang perlu didiskusikan. Bukan untuk memaksakan paham ini dalam kehidupan bermasyarakat, akan tetapi untuk meletakkan makna yang mungkin dapat dijadikan asas dalam mengambil nilai kebijakan. Diperlukan analisa non a priori terhadap proanarkisme, sebagaimana dibutuhkan juga dialektik non a priori kepada proanarkisme. Dalam bahasa santri disebut sebagai paham “khairul umur ausathuha,” sebaik-baiknya perkara adalah yang biasa-biasa saja.

Etimologi Anakisme

Secara etimologi, anarkisme berasal dari kata “anarki”. Ia berasal dari bahasa Yunani, memperoleh awalan an(a) yang berarti “tidak”, “ketiadaan”, “kekurangan”, atau zonder (tidak ada). Lalu ada kata “archie” atau “archos” atau dalam bahasa Yunani “archein”, yang berarti “pemimpin; suatu aturan”, “memerintah”, dan “menguasai”. Jadi anarki sendiri dapat diartikan sebagai tidak ada yang memerintah atau zonder pemimpin. Menurut Peter Kropotkin, anarki berasal dari bahasa Yunani yang berarti “melawan penguasa” (Kropotkin’s Revolutionary Phamphlets).

Sebagai paham politik, anarkisme mengusung kebebasan dalam membangun hubungan sosial tanpa adanya campur tangan pemerintah. Paham ini mengandaikan terciptanya harmoni sosial tanpa harus dikekang dan diatur dalam sebuah hierarki-patriarki kekuasaan. Pemerintah, dalam paham anarkisme, merupakan musuh utama untuk segera dienyahkan dan dihapus, karena hanya akan memberikan kemakmuran pada sekelompok elite pejabat.

Anarkisme juga dipandang sebagai paham politik yang mampu berdiri sendiri membangun kehidupan dan mewujudkan keadilan. Karena itu, maka sistem pemerintahan dianggap tidak diperlukan lagi oleh sistem politik anarkisme. Lebih jauh dari itu, agama juga dipandang sebagai musuh anarkisme. Sebab, di dalam agama terdapat aruran-aturan yang dibangun atas kemauan untuk memimpin dan menciptakan hierarki kepemimpinan.

Tujuan Anarkisme

Tinggalkan Balasan