Latar belakang lahirnya gerakan Islam radikal setidaknya disulut tiga sebab. Pertama, adanya paham takfiri yang memutlakkan pendapat kelompoknya sebagai yang paling benar dan menuduh pihak lain telah kafir hingga harus diperangi. Kedua, reaksi terhadap masalah-masalah yang mengiringi modernisasi yang dianggap keluar dari ajaran Islam. Ini merupakan buah dari benturan antarbudaya. Ketiga, kekacauan politik di beberapa negara dalam konteks transisi menuju demokrasi. Instabilitas tersebut diyakini karena penerapan sistem demokrasi sekuler.
Sistem Islam dianggap akan lebih dapat menjamin stabilitas. Untuk menerapkan sistem Islam, kelompok radikal tidak jarang menggunakan tindak kekerasan yang berujung pada gerakan terorisme. Melalui upaya itu, mereka berharap bisa menebar ketakutan di masyarakat, mengganggu stabilitas keamanan, mencari simpati, dan dukungan publik.

Sebab itu penanganan radikalisme dan terorisme tidak cukup dengan menangkap pelakunya, tapi perlu mengikis akar dan sumber penyebab mereka menjadi radikal. Dalam perspektif ini, penanggulangan terorisme perlu melihat mereka sebagai korban dari paham dan ideologi yang penuh kebencian, permusuhan, dan dendam.
Mencegah Radikalisme
Salah satu upaya strategis dan penting dalam melawan penyebaran paham radikalisme adalah dengan meningkatkan pemahaman keagamaan yang moderat, yaitu sikap yang menekankan penanaman sikap dasar keagamaan yang menghargai toleransi, keseimbangan, serta pemahaman Islam yang rahmatan lil alamin. Islam moderat merupakan pilihan realistis untuk masyarakat Indonesia.
