Sikap moderat dalam beragama memiliki semangat dialog dan kesediaan untuk saling berbagi menerapkan prinsip kebersamaan sehingga bisa berkoeksistensi dengan kelompok lain. Moderasi beragama sejalan dengan pluralisme dan interdependensi antarmanusia sebagai prinsip sosial yang tidak bisa ditolak.
Dalam bentuk yang lebih operasional, moderasi beragama dapat ditunjukkan dalam sikap keagamaan yang memiliki beberapa prinsip dasar, yaitu menerima bentuk negara ketuhanan dengan menolak bentuk negara sekuler dan negara teokrasi; Pancasila sudah final sebagai asas berbangsa dan bernegara; memiliki sikap toleransi dengan menerima adanya pluralitas dan keragaman agama dan keyakinan di Indonesia; serta memilih pendekatan dialog dan cara damai dalam menyelesaikan konflik atau perbedaan pendapat dan menjauhi cara-cara kekerasan.

Moderasi beragama ini harus menjadi moralitas publik. Ini membutuhkan partisipasi semua pihak. Gagasan dan gerakannya harus bersifat top down sehingga bisa didiskusikan di internal kelompok agama-agama. Untuk percepatan dan penguatan moderasi beragama di masyarakat, dibutuhkan peran aktif tokoh agama dan masyarakat sebagai penyebar gagasan sekaligus teladan.
Pada suatu sisi, melalui deskripsi Islam radikal yang disosialisasikan pemerintah atau organisai kemayarakatan, masyarakat diharapkan dapat mengidentifikasi paham dan gerakan tersebut kemudian mengisolasinya sehingga dapat menghalangi tumbuhnya bibit terorisme-radikalisme. Agar efektif, gerakan sosialisasinya harus masif dan menggunakan beragam media.
Pada sisi lain, sambil lalu menjelaskan Islam radikal dengan varian bahayanya, ia sekaligus merupakan bagian dari upaya mensosialisasikan Islam moderat yang selama ini kurang disosialisasikan. Dengan informasi yang utuh tentang kedua gerakan tersebut, sejak dari pikiran masyarakat paham dan bergerak atas dasar pengetahuan dan kesadaran sehingga sel-sel radikalisme sulit tumbuh di benak mereka sekaligus mendorong mereka meredam api radikalisme yang mulai disulut di sekitar mereka.
