Memaknai Ulang Teks Suci Tentang Orang Tua

Masalahnya, narasi dominan yang dipelihara adalah, bahwa anak mutlak harus bisa memahami orang tuanya, sedangkan orang tua tidak mutlak harus. Implikasinya, muncul mitos akhlak untuk menutupi arogansi personal orang tua.

Padahal, untuk ‘memahami’ tindakan seseorang, maka dibutuhkan: penjelajahan pada ranah riwayat pengalaman zaman dan dinamika hidup seseorang; pola pemikiran; habit pengambilan keputusan (decision-making behavior); dan struktur emosionologi seseorang. Dengan begitu, seseorang bisa memahami kenapa si X melakukan Y. Padahal, dalam hubungan antarmanusia, apa pun konteksnya (etnisitas, religius, kelompok, personal, dll) pemahaman adalah setengah dari tercapainya toleransi dan kolaborasi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di ilmu sosial, penjelasan tersebut membutuhkan bantuan antropologi, sosiologi, dan hermeneutika. Sementara peranti-peranti tersebut, dalam bentuk dan inisiasinya yang paling sederhana sekalipun, tidak tersiratkan dalam pendidikan populer; dalam pelatihan-pelatihan parenting; dan dalam ceramah di mimbar tentang hubungan orang tua dan anak. Absennya peranti-peranti tersebut dalam pendidikan publik dapat dipahami pada dua spekulasi, yakni antara belum munculnya kesadaran sosial-budaya, atau belum adanya kemauan politik dari pihak pemegang otoritas moral.

Dampaknya tidak hanya mengukuhkan timpangnya beban kewajiban ‘memahami’ antara anak dan orang tua, tetapi juga mencakup lebarnya peluang konflik antargenerasi, yang pada derajat tertentu seringkali dipandang sebagai afirmasi bahwa orang tua selalu benar, dan kebenarannya adalah kebenaran Tuhan. Pada ranah ini, muncul mitos sakralisasi diri yang mengabaikan esensi manusia sebagai tempatnya salah dan luput. “Rida Allah adalah rida orang tua”, tetapi teks ini bukan berarti membolehkan untuk mengklaim privilese sebagai pemilik kebenaran Tuhan secara sepihak.

Pun, mengklaim privilese itu adalah sebuah kontradiktif: bukankah hanya Nabi yang memang telah dijamin bebas dari kesalahan (maksum)? Kenapa orang tua begitu percaya diri mengklaim kebenaran Tuhan? Apakah orang tua sama maksum-nya dengan Nabi?

Bila seorang anak tidak bisa memahami orang tuanya, atau dianggap ‘tidak memahami’, maka anak itu akan dipertemukan dengan narasi soal balasan ketidakbahagiaan materialistik di masa tua nanti. Di sini, mitos ketaatan yang memengaruhi pendapatan masa depan, hadir.

Oleh karena itu, seorang anak harus bersikap sopan santun dan membahagiakan orang tuanya bila tidak ingin bertemu dengan ketidakbahagiaan materialistik di masa depan, sekalipun si anak telah berteman dekat dengan pikiran-pikiran gelap, burn-out, bisikan-bisikan bunuh diri, self-harm, dan perasaan tak berguna dari akumulasi perasaan marah, sedih dan kecewa yang tak terekspresikan. Sejak saat itu, mitos sopan santun yang meminggirkan kritik dan ekspresi emosi, dilanggengkan.

Mitos-mitos di atas mungkin akan dibantah kebenarannya karena kisah-kisah terdahulu telah menunjukkan banyak realitas ajaib yang melampaui nalar materiil (baik itu yang membahagiakan ataupun yang mengerikan). Tetapi itu hanyalah salah satu realitas yang kemudian diyakini berlaku di semua tempat oleh khalayak umum.

Di samping itu, generalisasi tersebut juga seringkali hanya menampilkan apa yang dirasakan orang tua, dan menyiratkan posisi anak sebagai ‘manusia kelas dua’ yang martabat kemanusiaannya baru bisa hadir jika ia telah memberikan layanan dan persembahan yang diinginkan orang tua, selama bukan sesuatu yang dosa, meskipun permintaannya berasal dari pengaruh konstruksi sosial kapitalistik yang mencampuradukkan hasrat duniawi dengan privilesenya sebagai kelompok yang disebut secara literal oleh teks suci.

Kunjungilah kawasan urban atau kawasan industri atau kawasan yang memiliki ketimpangan ekonomi. Di situ mudah ditemukan pemandangan bagaimana kelindan tuntutan ekonomi dan prestis sosial memengaruhi ekspektasi orang tua terhadap anak. Gesekan antarkeduanya menghasilkan fenomena beragam, dari mulai: kekerasan verbal orang tua terhadap anak; pengabaian pola asuh; hingga kekerasan psikis ataupun fisik.

Tinggalkan Balasan