Mendengar kata tasawuf banyak yang membayangkan bahwa ia adalah sebuah ilmu tingkat tinggi yang tak sembarangan orang bisa memahaminya. Apakah benar demikian? Jawabannya adalah bisa iya bisa tidak, tergantung dengan niat apa kita mendekatinya.
Pengalaman pertama saya mendengar kata tasawuf terjadi kira-kira belasan tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMP. Waktu itu di masjid secara spontan seorang tua menjuluki saya sebagai ahli tasawuf. Sungguh pengalaman yang mistis bukan?

Tapi saya tak mau besar kepala atau ujub dan sebagainya. Bahkan, saya merasa itu adalah kekonyolan yang justru tak ingin saya ingat-ingat lagi. Pasalnya, lelaki tua itu menyebut saya sebagai orang yang ahli tasawuf cuma gegara saya tak menyambut uluran salamannya. Padahal kalau saya ingat-ingat lagi–karena sudah terjadi belasan tahun lalu–waktu itu saya merasa tidak sedang berzikir apalagi sampai masuk ke dalam fana (baca: melebur dengan Tuhan).
Pertemuan berikutnya yang kemudian menjadi pemahaman awal saya tentang tasawuf adalah ketika pelajaran akidah akhlak di sekolah. Tapi saya hanya sebatas memelajari konsep-konsep dalam ilmu tasawuf untuk kepentingan ujian saja. Barulah ketika duduk di bangku kuliah saya merasa lebih tertarik lagi guna memehami konsep tasawuf, terlebih setelah membaca beberapa karya sastra yang menjadi ekspresi dari perilaku tasawuf.
Setelah membaca karya-karya yang bermuatan tasawuf–jika meminjam istilah dalam penelitian saya dulu adalah sufisme–saya memutuskan bahwa skripsi saya akan membahas tasawuf atau sufisme sebagai temanya. Maka saya pun mulai mencari referensi-referensi yang dapat menjadi bahan saya dalam meneliti karya sastra.
Awal saya menghadap dosen untuk mengajukan judul penelitian, saya langsung ditodong pertanyaan, apakah saya pernah belajar di pesantren? Saya menjawab seadanya bahwa saya pernah belajar di pesantren tetapi tidak mendalami kitab-kitab yang menjelaskan tasawuf atau sufisme. Saya dengar kitab-kitab itu hanya dipelajari oleh santri yang sudah senior atau sudah lama nyantri.
Dengan mengusulkan beberapa buku dan penelitian terdahulu yang relevan, akhirnya proposal penelitian saya untuk skripsi disetujui. Itupun dalam suasana tantangan karena di kampus saya penelitian dengan tema tasawuf atau sufisme belum banyak dilakukan. Berangkat dari acc judul itu, saya akhirnya mengobrak-abrik perpustakaan kampus. Akhirnya setelah browsing sana-sini, bertemulah saya dengan sebuah nama yang sering disebut dalam buku rujukan saya (Nicholson, Schimmel, dan Simuh), yaitu Abu Nasr As Sarraj.
Sebenarnya, konsep-konsep yang dijelaskan dalam buku rujukan saya itu memadai kalau hanya untuk penelitian skripsi. Tetapi rasa penasaran saya tentang nama As Sarraj membuat saya nyasar ke salah satu laman arsip yang membagikan secara gratis pindaian dari terjemahan Reynold A Nicholson terhadap sebuah kitab tasawuf kuno yang berjudul Al Luma karya As Sarraj.
