Pembacaan pun dimulai. Berbekal kemampuan berbahasa Inggris ala kadarnya, saya mencoba memahami teks itu dari kanan ke kiri, maksudnya dari terjemahan Nicholson. Saya tidak berani dan memang tidak punya kemampuan Bahasa Arab, sehingga saya tak menghiraukan teks asli dari As Sarraj yang dapat dibaca dari halaman terakhir.
Saya mulai membaca sambil mencocokkan konsep tasawuf atau sufisme yang dijelaskan di buku-buku yang saya jumpai di perpus kampus. Sedikit banyak memang pemaknaan dan pemahaman terhadap konsep tasawuf atau sufisme dapat berkembang, sehingga tidak sederhana, akan tetapi menjadi kompleks. Misalnya saja, dari konsep hal atau perasaan yang dialami oleh salik (baca:orang yang menjalankan perilaku tasawuf) diuraikan lebih banyak di teks yang diterjemahkan oleh Nicholson ini.

Teks yang disusun oleh orientalis Inggris ini dapat dikatakan sangat lengkap dalam proses penerjemahan.Jika diperhatikan dari awal, indeks yang disajikan dalam terjemahan ini sangat lengkap. Mulai dari keterangan huruf dan angka hijaiyah, sumber-sumber yang menjadi rujukan atau interteks dalam proses penerjemahan, dan lain sebagainya.
Dalam hal ini, Nicholson menunjukkan dengan apa adanya proses-proses yang dilaluinya selama proses penerjemahan. Ini juga menunjukkan bahwa sang orientalis telah menghabiskan banyak waktu dan tenaganya dalam meneliti kitab ini.
Yang menarik dari teks yang disimpan di perpustakaan Universitas Toronto ini adalah penjabaran konsep tasawuf yang sangat konkret. Artinya, secara definitif apa yang dijelaskan oleh As Sarraj telah final. Tak ada konsep yang masih abstrak atau yang membutuhkan penjelasan lebih.
Hal ini menunjukkan bahwa kitab Al Luma adalah memang referensi atau literasi pertama dari ajaran tasawuf yang konkret. Tidak abstrak seperti yang pernah dijelaskan oleh beberapa pakar yang menyebutkan bahwa ajaran tasawuf sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi akan tetapi tidak memiliki nama.
Maksud dari tidak memiliki nama dalam hal ini mungkin adalah konsep tasawuf itu tidak atau belum ditulis secara konkret seperti yang dilakukan oleh As Sarraj. Meskipun, banyak sufi setelahnya—As Sarraj—yang juga menulis kitab, tapi mungkin tidak sekonkret Al Luma.
Sufi-sufi lain hanya meneruskan dan mengoreksi apa yang telah dijelaskan oleh As Sarraj dalam Al Luma, bahkan ada dari beberapa sufi yang justru tidak menjabarkan secara jelas konsep tasawuf yang diimplementasikannya dalam kehidupan. Misalnya Ar Rumi yang justru lebih terkenal mengekspresikan tasawuf atau sufisme ke dalam bentuk puisi atau sastra. Lain halnya dengan As Sarraj yang menuliskannya dalam penjabaran konsep yang definitif.
