Kitab ini layak dan wajib menjadi rujukan pertama bagi siapapun yang hendak meneliti sastra profetik, sufistik, atau mistisisme khususnya dalam karya sastra. Sebab, teks ini menurut saya menjelaskan hampir seluruh konsep yang ada dalam ajaran tasawuf. Mulai dari penjelasan definitif tentang tasawuf sampai pada bagian terakhir yang membahas tentang ruh. Dengan total sebanyak 152 bagian yang dijelaskan dalam kitab ini, pembaca dan peneliti akan mendapatkan pemaknaan dan pemahaman yang melimpah tentang tasawuf.
Kembali ke proses pembacaan saya, berlanjut sampai semua teks yang merupakan hasil terjemahan Nicholson dari Bahasa Arab ke Bahasa Inggris, saya terjemahkan lagi ke Bahasa Indonesia. Kemudian, muncul sebuah unek-unek yang mengganjal hati saya. Apakah makna dari konsep tasawufnya tidak tereduksi karena sudah melalui proses penerjemahan sebanyak dua kali? Yang pertama yaitu terjemahan oleh Nicholson, kemudian yang kedua adalah terjemahan saya sendiri yang bukan ahli Bahasa Inggris. Hal itu mendorong saya untuk melakukan sesuatu yang lain.

Setelah siap dengan cetakan dari teks asli kitab Al Luma yang berbahasa Arab, saya merencanakan pertemuan dengan guru ngaji saya. Setelah sama-sama menyepakati hari dan jamnya, saya pun segera menemui beliau. Saya sengaja mengaku bahwa keperluan saya waktu itu guna menyelesaikan skripsi. Tujuannya agar guru ngaji saya yang datangi itu tidak mencurigai saya hendak memelajari ilmu tasawuf. Alasannya biar wawancara saya nanti dapat berjalan lancar, apa adanya, dan murni bertujuan untuk penelitian.
Namun, sayangnya ketika pembahasan sudah sampai pada pemaknaan dari beberapa poin tentang 7 maqam (tingkatan spiritual) yang dijelaskan dalam kitab Al Luma, guru ngaji saya itu mendadak berhenti memberikan keterangan dari setiap kata. Yang membuat saya kaget berikutnya adalah guru ngaji saya itu tiba-tiba berkata bahwa beliau tidak pantas dan belum boleh memaknai kitab Al Luma ini. Alasannya, beliau juga masih terlalu jauh untuk berdekat-dekat apalagi memelajari kitab semacam ini.
Akhirnya rencana memaknai kitab Al Luma dari literasi Arab gagal setelah guru ngaji saya itu secara halus mengusir saya dengan mengatakan bahwa beliau tidak bisa membantu banyak. Saya pun mengerti dan memaklumi beliau karena memang saya seolah lancang menodong beliau dengan kitab tasawuf.
Pertemuan itu pun berakhir canggung dengan sama-sama membungkam lisan masing-masing. Saya tertunduk, merasa tak enak telah lancang membawa kitab itu, sehingga memancing perasaan halus guru ngaji yang saya rasa justru sedang berjalan di titian maqam itu. Mungkin beliau berhenti menjelaskan bukan karena tidak paham, tapi karena justru beliau sedang terantuk hatinya untuk lebih meresapi tasawuf, bukan hanya pada taraf pemahaman kognitif, tetapi mewujud dalam perilaku dan merasuk dalam kalbunya yang paling dalam.
Jember, 2022.
