Membaca dalam Islam: Jalan Literasi Menuju Pengetahuan

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Terjemahan: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Lafaz “اقْرَأْ” (Iqra’) berasal dari kata kerja dalam bahasa Arab yang berarti “bacalah”. Kata ini memiliki beberapa makna dan implikasi penting dalam konteks wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Ayat ini diturunkan ketika Nabi Muhammad SAW sedang beribadah di Gua Hira, yang kemudian menjadi wahyu pertama dan awal masa kenabiannya. Pentingnya membaca juga dapat kita ketahui dari cara Malaikat Jibril mengajari Nabi Muhammad SAW yang pada saat itu belum bisa membaca.

Malaikat Jibril mendekati Nabi Muhammad SAW dan memeluknya dengan erat, kemudian memerintahkannya, “Iqra'” (Bacalah).

Nabi Muhammad SAW, yang tidak bisa membaca atau menulis, menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jibril mengulangi perintah tersebut, “Iqra'” dan Nabi Muhammad SAW kembali menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Jibril kemudian memeluknya dengan lebih erat dan untuk ketiga kalinya memerintahkannya, “Iqra'” (Bacalah). Nabi Muhammad SAW sekali lagi menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Tinggalkan Balasan