Membaca Kembali Pendidikan: Sebuah Tafsir untuk Santri

Mari kita mulai dengan satu pertanyaan sederhana: untuk apa santri belajar? Bukan pertanyaan apa yang dipelajari, atau bagaimana caranya belajar, tetapi untuk apa?

Dalam tradisi pesantren, jawabannya tidak sederhana. Belajar bukan untuk mencari pekerjaan. Belajar bukan untuk sekadar prestise sosial. Belajar adalah bagian dari ibadah—bagian dari perjalanan spiritual untuk mengenal diri, mengenal Tuhan, mengenal sesama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam Ta’līm al-Muta’allim, kitab tua yang masih menjadi pegangan di banyak pesantren, disebutkan bahwa ilmu itu demi amal, bukan demi perdebatan. Dan amal, di situ, tidak selalu berarti aktivitas fisik. Ia juga berarti pembentukan diri, perubahan batin, keterbukaan terhadap kebenaran—betapapun menyakitkan kebenaran itu.

Maka perayaan Hari Pendidikan Nasional di pesantren harus berani bertanya: Apakah ilmu yang kita pelajari telah mengubah kita?

Apakah setelah satu tahun membaca Fath al-Qarib, Bulugh al-Maram, atau Tafsir al-Mishbah, hati kita menjadi lebih lapang? Akal kita lebih tajam? Empati kita lebih dalam? Atau justru kita menjadi lebih sombong, lebih menghakimi, lebih merasa benar sendiri?

Saya membayangkan Hari Pendidikan Nasional yang sunyi. Bukan upacara dengan barisan kaku. Bukan pidato yang disalin dari internet. Tetapi satu hari di mana seluruh pesantren berhenti sejenak. Para santri berkumpul dalam halaqah-halaqah kecil. Masing-masing merefleksikan satu pertanyaan: Apa yang sudah aku pelajari tahun ini—not only with my brain, but also with my heart?

Begitu Hari Pendidikan Nasional dihidupkan kembali—tidak sebagai seremoni, tetapi sebagai ziarah batin—pendidikan bisa kembali menjadi ruang untuk tumbuh, bukan hanya untuk diukur.

Menjaga Tradisi, Merayakan Pertanyaan

Tinggalkan Balasan