Tentu, perubahan seperti itu tidak mudah. Dalam sejarah panjang pendidikan, selalu ada tarik-menarik antara formalisme dan pembebasan. Ki Hadjar sendiri pernah diasingkan oleh pemerintah kolonial karena ia membayangkan sekolah yang bukan hanya mencetak pegawai, tetapi membebaskan manusia.
Di dunia pesantren, tarik-menarik itu juga ada. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk menjaga tradisi: metode hafalan, kitab kuning, sistem sorogan. Di sisi lain, ada kebutuhan untuk membiarkan pertanyaan-pertanyaan baru tumbuh: Apa makna belajar di zaman penuh distraksi ini? Bagaimana membangun ketahanan batin di tengah banjir informasi?

Perayaan Hari Pendidikan Nasional untuk santri harus menjadi ruang dialektika: menjaga tradisi tanpa mematungkannya, membuka inovasi tanpa kehilangan akar.
Saya teringat satu fragmen dari Tafsir al-Azhar karangan Buya Hamka. Ia menulis tentang perintah pertama dalam Al-Qur’an: Iqra’!—bacalah! Tapi Hamka menafsirkan membaca bukan sekadar mengeja huruf-huruf. Ia berbicara tentang membaca kehidupan. Membaca perubahan. Membaca diri sendiri. Membaca Allah melalui tanda-tanda di dunia.
Mungkin itulah tugas santri hari ini. Membaca—dengan cara yang lebih luas. Membaca bukan hanya kitab kuning, tetapi juga kegelisahan zaman. Membaca bukan hanya masa lalu, tetapi juga masa depan.
Hari ini, pendidikan kita terlalu sering terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Ia menjadi proyek industrialisasi: menghasilkan manusia-manusia seragam, siap pakai, tanpa banyak bertanya. Padahal pendidikan seharusnya melahirkan manusia-manusia yang tidak takut bertanya: “Mengapa dunia ini begini?” “Mengapa aku begini?” “Apa yang bisa kuubah?”
Dalam pengertian ini, para santri—bila mereka setia pada jiwa keilmuan mereka—bisa menjadi benteng terakhir pendidikan sejati. Karena mereka dididik untuk tidak hanya tahu, tetapi juga beradab. Tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga diajari khauf (rasa takut kepada Tuhan) dan mahabbah (cinta).
Akhirnya, Hari Pendidikan Nasional bukanlah sekadar memperingati kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Ia adalah memperingati kelahiran kembali diri kita sendiri—sebagai insan yang terus belajar, terus bertanya, terus merunduk dalam kehausan akan kebenaran.
