Membaca Madura yang Lain

Jembatan Suramadu, sebuah akses jalan yang menghubungkan wilayah Madura dengan wilayah luar Madura, menjadi semacam lampu hijau masuknya orang asing ke wilayah Madura. Sehingga, dengan sikap terbuka orang Madura ditambah mudahnya akses masuk orang luar, menjadikan Madura lumer akan identitasnya. Tidak jarang ditemukan budaya asing bermunculan di pulau Madura ini. Bahkan mirisnya, budaya luar yang dimaksud, diterima dengan terbuka tanpa melakukan semacam penyaringan akan bagaimana dampaknya terhadap budaya Madura sendiri.

Buku karya Royyan Julian ini, di samping menyoal sikap pragmatisme masyarakat Madura, juga menyinggung beberapa tempat strategis yang berpotensi menjadi tempat wisata religi di Madura. Salah satunya adalah situs pemakaman Kiai Moko, sebuah makam orang pintar yang oleh masyarakat sekitar dikeramatkan dan disematkan sebagai bhuju’ Moko. Hanya, oleh pemerintah daerah situs makam Kiai Moko telah disia-siakan pengelolanya. (hlm:17) sehingga bhuju’ Moko jadi tak terawat dan dipenuhi semak-semak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Buku Madura Niskala karya Royyan Julian ini adalah refleksi yang menyingkap tirai kegelisahan jati diri Madura yang kian memudar. Dengan bahasa yang puitis namun tajam, setiap narasi tidak sekadar mengisahkan, tapi juga menggugah kesadaran, menghidupkan imaji, dan mengajak para pembaca merenungi luka-luka kebudayaan yang perlahan terpinggirkan. Ini bukan sekadar buku, melainkan suara hati sebuah tanah yang mencari dirinya kembali. Wallahua’lam

Data Buku:

Tinggalkan Balasan