K. M. Faizi dalam bukunya yang berjudul Merusak Bumi Dari Meja Makan mengatakan, “Bukit kapur adalah tandon bumi terbesar yang menampung air hujan.” Jadi, menghancurkan bukit kapur berarti kematian mata air. Sementara mata air merupakan sesuatu yang paling berharga bagi seluruh makhluk di Bumi.
Bagi masyarakat Madura dengan watak pragmatisnya, menambang batu bukanlah perkara yang serius, malah menjadikan perkara ini sebagai usaha mencari nafkah untuk keluarga. Keluarga macam apa yang mau hidup di atas penderitaan bumi yang sakit. Berbahagia di atas penderitaan, berarti sebuah sikap pragmatis yang menunjukkan ketidakpedulian pada sekitar.

Sikap terlalu terbuka yang dimiliki oleh masyarakat Madura juga merupakan salah satu faktor yang menjadikan Madura niskala. Tradisi tanah sangkol pada dasarnya merupakan warisan yang sangat berharga. Tanah, bagi masyarakat Madura, sama halnya dengan orang tua pada mulanya. Karena itu menjual tanah berarti menjual orang tua (hlm: 40).
Namun, seiring perkembangan zaman, tanah tidak lagi berarti apa-apa. Mirisnya, di sepanjang pantai utara Kabupaten Sumenep, orang-orang melepas tanah sangkol kepada investor yang menyulapnya menjadi tambak udang. Satu faktor yang barangkali menjadikan Madura demikian, yakni sikap “terbuka” masyarakat Madura sendiri.
