Bagaimana Nabi melakukan ibadah? Kepada siapa Nabi berderma? Pertanyaan semacam ini patut diajukan lantaran kita saksikan sendiri sekarang ini letak Gua Hira di padang tandus dan gersang, tidak ada pepohonan, air dan rerumputan, penghuni bahkan penggembala sekali pun. Benarkah makna tahannuts demikian?
Demi melacak kebenaran dan ketepatan makna tahannuts, kita perlu kembali ke masa silam pada tahun 1400 tahun lalu. Mengapa begitu? Karena secara geografis, sekarang ini kita memasuki tahap akhir era ketiga dari proses pergeseran salju yang mengakibatkan kekeringan sehinga padang pasir menjadi gersang dan tandus. Namun pada tahun itu, 1400 tahun lalu masih tersisa kawasan hijau menutupi daerah padang pasir di setengah wilayah dunia sebelah utara karena peralihan salju mengarah ke utara. Kita bisa saksikan buktinya, sampai sekarang masih ada pohon yang dahulu pernah dibuat berteduh Rasulullah dan masih hidup, letaknya di Yordania. Pohon itu bernama Sahabi.

Jelas bahwa pada tahun 1400, tanah Makkah masih menumbuhkan pohon-pohon, tanaman, dan tumbuh-tumbuhan. Artinya, bukit-bukit tempat Nabi Muhammad melakukan khalwat, termasuk Gua Hira, dikelilingi padang hijau bukan padang coklat gersang seperti sekarang ini. Banyak penggembala kambing melepas gembalaannya di padang hijau itu. Kepada mereka lah Nabi Muhammad berderma, baik saat menuju Gua Hira atau pun selama khalwat di sana. Demikianlah tahannuts bisa digambarkan.
