Membaca Proses Kenabian dan Kerasulan Muhammad (3)

“Kemudian beliau merasa senang berkhalwat (menyendiri) selama berhari-hari di Gua Hira hingga perbekalannya habis, lalu pulang ke Khadijah dan mengambil bekal untuk hari-hari berikutnya,” lanjutan redaksi hadis.

Kejadian datangnya mimpi nyata yang emanatif seperti cahaya fajar menyingsing itu dialami Muhammad tidak menentu. Kadang dalam keadaan tidur pada malam hari, tetapi bisa saja terjadi pada siang hari setiap kali beliau lengah atau mengalami kontemplasi spiritual. Bila mimpi itu datang, Nabi Muhammad seketika melihat pemandangan-pemandangan indah yang menyejukkan dan menenangkan jiwa sekaligus melapangkan dada.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Usai mengalami mimi-mimpi itu, Nabi Muhammad menjadi lebih senang berkhalwat di Gua Hira untuk melakukan ibadah. Sufi agung Ibnu ‘Arabi pernah berbicara tentang jiwa yang merasakan rindu dan jiwa yang mendapat titian menuju cahaya ilahi akan selalu terdorong untuk melakukan khalwat dan menjauhi keramaian.

Apa yang menimpa beliau adalah perkara kenabian. Tidak pantas bila peristiwa itu terjadi saat beliau sedang sibuk dengan urusan dunia dan berada di keramaian, atau bahkan di tengah keluarga; istri dan putra-putrinya, demi keagungan Muhammad dan keagungan persitiwa tersebut.

Tinggalkan Balasan