Perlu dicatat, Nabi Muhammad pergi ke Gua Hira tujuannya bukan untuk berderma, melainkan beribadah seperti yang telah diulas dalam tulisan sebelumnya. Beliau pergi ke Gua Hira murni untuk berkhalwat, beribadah, usai mengalami fase pertama proses persiapan kenabian, yakni mimpi nyata laksana fajar menyingsing.
Tahannuts atau ibadah yang dilakukan Nabi Muhammad di Gua Hira merupakan fase kedua dalam proses kenabian. Ibadah apakah yang dilakukan Muhammad, sementara itu beliau belum mandapatkan wahyu?

Ibadah Muhammad di Gua Hira adalah tahannuts, tetapi pemaknaan tahannuts ternyata beraneka ragam. Salah satunya, seperti yang telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, yakni berderma. Ada penafsiran lain, yaitu qunut. Ibadah qunut adalah ibadahnya Nabi Ibrahim, yaitu berzikir dalam kesunyian, yang sampai sekarang orang-orang saleh masih melakukan hal demikian. Terjadi kemungkinan bahwa tahannuts adalah qunut. Sebab, beliau sejak awal sudah mendamba agama Nabi Ibrahim.
Penafsiran tersebut didasarkan pada ayat berikut: “Sesungguhnya Ibrahim adalah imam yang bisa dijadikan panutan. Dia senantiasa patuh kepada Allah lagi hanif, dan dia bukanlah golongan orang-orang musyrik. (QS Al-Nahl:120).
Lalu, apakah yang sebenarnya terjadi di Gua Hira? Bagaimana Nabi Muhammad mendapatkan wahyu? Bagaimana detik-detik mencengangkan, di mana sejarah akan berbelok arah 360 derajat daripada sebelumnya, terjadi?
Banyak pendapat, riwayat, dan penulisan sejarah yang menceritakan atau menerangkan bagaimana proses turunnya wahyu. Namun, dalam tulisan ini tidak akan diuraikan perbedaan pendapat tersebut. Secara saksama akan ditulis berdasar logika sejarah, apa yang sebenarnya terjadi di dalam Gua Hira.
Telah disinggung sebelumnya dalam tulisan ini, disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhori bahwa Muhammad pertama kali menerima wahyu merasa sangat ketakutan, tubuhnya menggigil dan bergetar hebat karena secara tiba-tiba datanglah suara laksana lonceng yang melengking.
