Ketika Muhammad dalam puncak keheningan tahannuts, terkuaklah rahasia-rahasia alam berbarengan dengan suara Jibril yang menggelegar: Iqra (Bacalah!). Muhammad yang ummi bergetar sambil berucap “Aku bukan seorang pembaca.”
Jibril merangkul memeluk tubuh Muhammad hingga beliau merasa lemas dan sesak napas. Jibril memekasanya lagi untuk iqra. Muhammad yang ummi masih kebingungan dan terus berucap dengan sisa-sisa tenaga “Aku bukan seorang pembaca.”

Lalu Jibril pun mendiktekan ayat “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan… Jibril pergi dan ayat itu terpatri dalam hati Nabi.
Muhammad seketika berubah status dari manusia biasa menjadi seorang nabi, Nabi Muhammad saw. Pertama kalinya dalam sejarah, Allah menunjuk seorang manusia yang jujur, adil, amanah, dan cerdas untuk memimpin umat manusia dan seluruh alam semesta raya.
Muhammad masih ketakutan dan merasa lemas, beliau duduk sebentar menenangkan diri usai kejadian tersebut, mengumpulkan tenaga untuk bangkit dan kemudian pulang. Beliau masih tertegun, bingung, apa sebenarnya yang terjadi. Di dalam batinnya bergerombol pertanyaan-pertanyaan. Beberapa saat setelah istirahat sembari tepekur, saat dirasanya sudah memiliki tenaga, akhirnya beliau pulang menemui istri tercintanya dengan keadaan masih ketakutan dan kebingungan.
Setibanya di rumah, beliau berujar kepada Khadijah, “zammiluunii zammiluunii” (selimuti aku… selimuti aku). Tangan lembut Khadijah segera mengambil selimut dan dengan lembut serta penuh perhatian dan simpati membentangkan selimut menutupi suami tercintanya yang sedang menggigil ketakutan.
Tak hanya menyelimuti sang suami, kelak Khadijah-lah orang pertama yang percaya bahwa apa diterima Muhammad adalah wahyu, firman Tuhan. Sebuah penegasan bahwa sejak saat itulah Muhammad adalah seorang utusan, rasul.
