Sedikit demi sedikit, mulailah terbangun antusiasme umat Islam dalam dunia pendidikan, dimulai dengan menulis Al-Qur’an, hadis, sejarah kehidupan Nabi, hingga hukum-hukum Islam. Sehingga mengantarkan bangsa Arab yang dulunya bangsa yang ummi (buta huruf) berasimilasi menjadi pusat peradaban keilmuan dunia.
Munculnya Dar Al-Hikmah pada masa Kholifah Al-Ma’mun (813-830 M) di kota Baghdad sebagai akademisi ilmu pengetahuan pertama di muka bumi yang sekaligus menjadi pusat penelitian, pengembangan, dan perpustakaan telah menjadi bukti nyata akan pernyataan ini. Dan sebelum Baghdad dihancurkan, telah banyak ilmuan Eropa yang menyerap ilmu di sana seperti Michael Scot (1175-1235), Roger Bacon (1220-1292 M), dan lain-lain.

Sejarah mencatat hampir tujuh abad lamanya, mulai 750 hingga 1500 M, Islam mulai menapaki sejarah dan berhasil mencapai kejayaan baik dalam politik, ekonomi, dan juga ilmu pengetahuan. Dalam rentang waktu itu, lahir ratusan ilmuan muslim yang melahirkan beragam teori yang kelak mengilhami kemunculan Renaissance di Eropa. Di antara sederet nama Ilmuan muslim yang mendunia adalah Jabih Ibn Hayyan (721-815 H) ahli ilmu kimia, al-Khawarizmi (780-850 H) ahli matematika, Ibn Sina (980-1037 H) pakar kedokteran, dan al-Biruni (973-1048 H) pakar fisika.
Ini tidak lepas dari peran Al-Qur’an sebagai kitab dari langit yang isi pesannya sangat membumi. Al-Qur’an adalah panduan hidup umat Islam yang di dalamnya telah terhimpun pesan-pesan langsung dari Tuhan kepada umat manusia. Sehingga selayaknya bagi kita umat Islam harus sadar dengan imbauan-imbauan Al-Qur’an ini dan menjadikannya rujukan utama pada setiap permasalahan dalam meraungi kehidupan. Hingga kita dapat mencapai kemajuan seperti halnya para pendahulu kita.
