Membaca Ulang Gagasan Islam Nusantara

Dari sini, jelas bahwa Islam Nusantara bukanlah ajaran Islam baru atau bertentangan dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagaimana yang dipahami oleh salah seorang peserta diskusi tersebut. Pun juga, penting dicatat bahwa sebelum mengajukan argumentasi, seyogianya membaca terlebih dahulu agar tidak gagal paham dan bisa berimplikasi pada penyesatan, mudah menyalahkan apalagi tidak menerima tanpa argumentasi yang jelas (logis). Wallahu A’lam.

One Reply to “Membaca Ulang Gagasan Islam Nusantara”

  1. Saya tidak apatis terhadap gagasan Islam Nusantara, karena, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Dr. Abd A’la Basyir, bahwa Islam Nusantara adalah sebuah ijtihad menuju sebuah kebermaknaan (Ijtihad Islam Nusantara). Namun perlu dipahami bahwa Islam lahir sebagai rahmatan lil’alamin, kasih sayang seluruh alam tanpa membeda-bedakan suku, bangsa, kawasan, dan lain sebagainya. Artinya, kemurnian Islam harus menjadi prioritas tanpa dibatasi oleh semangat kultural dan kewilayahan. Jika ini dipahami sebagai sebuah ukhuwah islamiyah, maka tidak akan terjadi dikhotomi keakuan maupun kenusantaraan.

    Menjaga sikap persatuan dalam keislaman akan lebih bermakna daripada lahirnya Islam Nusantara, Islam Jawa, Islam Indonesia, Islam Sumatera, dan Islam-Islam lainnya. (Maaf, ini hanya pandangan saya pribadi tidak ada kaitannya dengan kelompok tertentu. Saya mohon sapora atas perbedaan ini)

Tinggalkan Balasan