Membaca Ulang Hubb al-Watan min al-Iman: Telaah Pemikiran Politik KH Hasyim Asy’ari dan Relasi Agama-Negara*

Menariknya, Islam bertindak sebagai struktur idealogi dan moral yang di dalamnya politik dan revolusi yang penuh pertentangan diberi makna. Konsep Islam juga dapat digunakan secara sengaja untuk membingkai gerakan revolusioner, baik untuk membenarkan, meligitimasi, memuliakan, dan memperluas daya tarik gerakan. Islam juga bisa campur tangan dalam perjuangan revolusioner bukan hanya sebagai ideologi, tapi juga pertanda kepentingan pribadi. Dan ulama, sebagai penjaga gerbang, telah berfungsi sebagai faktor legitimasi utama bagi para penguasa Timur Tengah.

Hal tersebut mungkin bisa sedikit menjelaskan bagaimana pemikiran KH Hasyim Asy’ari, yang Sunni, bergerak dalam perihal politik perjuangan kemerdekaan dan kecintaan terhadap bangsa, khususnya dengan memunculkan slogan Hubb al-Wathan Min al-Iman.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

KH Hasyim Asy‘ari: Menyatukan Identitas Kebangsaan dan Keagamaan

KH Hasyim Asy‘ari merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah kebangsaan Indonesia yang secara konsisten menjembatani antara nilai-nilai keislaman dan semangat nasionalisme. Adapun, puncak kontribusinya dalam perjuangan tersebut tampak jelas dalam momen krusial pasca-kemerdekaan, tepatnya pada 17 September 1945, ketika ia mengeluarkan fatwa jihad (resolusi jihad).

Fatwa tersebut menyatakan bahwa membela tanah air dari agresi penjajah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, baik secara individu maupun kolektif. Sebuah penafsiran makna jihad yang tentunya kontekstual yang selaras dengan kondisi saat itu. Fatwa tersebut menjadi fondasi moral dan spiritual yang menggerakkan laskar-laskar santri, seperti Hizbullah dan Sabilillah, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman rekolonialisasi Belanda.

Fatwa jihad KH Hasyim Asy‘ari mencerminkan sebuah tafsir kebangsaan yang mendalam dari perspektif Islam. Ia memaknai cinta tanah air (ḥubb al-waṭan) sebagai bagian dari iman, sehingga membela negara bukanlah tindakan sekuler yang terpisah dari agama, melainkan bentuk nyata dari pengamalan ajaran Islam.

Dalam kerangka tersebut, nasionalisme tidak diposisikan sebagai ideologi Barat yang bertentangan dengan Islam, tetapi justru dipahami sebagai ekspresi keimanan yang kontekstual. Oleh karena itu, gagasan kebangsaan KH Hasyim Asy‘ari mengandung dimensi spiritual yang kuat, menjadikan perjuangan politik dan militer sebagai bagian dari ruh perjuangan. Ruh perjuangan tersebut mempunyai dua bentuk. Pertama, ruh al-jihad yang mengajarkan bahwa menyebarkan Islam berarti memperbaiki kemanusiaan, dan perjuangan adalah bentuk pengorbanan yang harus dihadapi dengan ketangguhan. Kedua, ruh al-ittihad yang berarti semangat persatuan di antara umat Islam. Ia menyerukan pentingnya menjalin kesatuan antara generasi muda dan tua serta mengajak umat Islam untuk mengesampingkan perbedaan demi memperkuat persatuan nasional.

Pernyataan yang mengatakan bahwa dalam sekularisme agama terpisah dengan negara tidak sepenuhnya benar. Menurut Nadia Fadil, subjek yang secara kasat mata diasumsikan modernitas sekuler dengan kehidupan religius dan politik yang terpisah, tidak menjadi persoalan bagi siapapun untuk beradaptasi dengan harapan kehidupan sosial semacam itu. Elemen religius, politik, dan lainnya sebagian besar saling terikat; tidak hanya mencoba menyesuaikan diri dengan harapan kehidupan modern, tetapi juga mencoba menemukan kompromi dengan harapan implisit dan eksplisit dari masyarakat secara keseluruhan. Meskipun, lanjut Nadia, proses penyeimbangan itu sering kali rapuh dan cukup diawasi dengan curiga dalam iklim politik kontemporer.

Namun, setidaknya, dalam situasi inilah, pemikiran KH Hasyim Asy‘ari menjadi jembatan antara identitas keagamaan dan identitas kebangsaan. Ia tidak hanya menciptakan sintesis antara Islam dan nasionalisme, tetapi juga memberikan landasan teologis bagi keterlibatan umat Islam dalam membangun negara-bangsa yang merdeka dan berdaulat. Warisannya masih terasa hingga kini, terutama dalam peran besar Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan yang tetap berkomitmen pada integrasi antara nilai-nilai Islam dan kebangsaan Indonesia.

Implikasi Ideologis di Masa Kini

Dalam konteks saat ini, di mana tidak ada keterdesakan kondisi sebagaimana dulu saat KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad, slogan “Hubb al-Wathan Min al-Iman” memunculkan pertanyaan: apakah ia berimplikasi pada loyalitas yang pasif atau menjadi fondasi resistensi yang aktif? Di satu sisi, cinta tanah air sebagai bagian dari iman dapat dimaknai sebagai komitmen untuk menjaga keutuhan negara dalam kondisi apa pun, termasuk ketika negara menjadi otoriter. Namun di sisi lain, jika cinta tanah air dipahami secara kritis, maka justru dorongan iman itu seharusnya mendorong warga negara untuk melawan ketidakadilan demi menjaga martabat bangsa. Di titik ini, tafsir atas slogan tersebut menjadi sangat menentukan posisi ideologis masyarakat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama, dalam merespons perilaku rezim.

Doktrin cinta tanah air menjadi bentuk kesetiaan simbolik terhadap negara, yang jika tidak disertai sikap kritis akan jatuh pada fanatisme. Menurut Syekh al-Utsaimin (w. 2001 M), salah seorang penghulu ulama Salafi di Saudi Arabia dan pernah menjabat sebagai ketua Hai’ah Kibarul Ulama, cinta tanah air akan menjatuhkan seseorang dalam fanatisme. Namun, hal itu dibantah oleh salah satu tokoh Nahdliyyin yang juga mantan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, bahwa pernyataan Hubbul Wathan minal Iman bukanlah sebuah fanatisme. Dalam hal ini, hubbul wathan dapat memungkinkan untuk bertransformasi menjadi bentuk nasionalisme yang alpa dari etika perlawanan. Padahal, dalam konteks sejarah KH Hasyim Asy‘ari, cinta tanah air justru menjadi spirit untuk melawan penjajahan dan membela rakyat. Maka, menjadi sebuah tantangan saat ini untuk bagaimana memegang teguh semangat hubbul wathan sebagai kekuatan moral yang mampu menumbuhkan keberanian untuk berkata benar di hadapan kekuasaan yang represif.

Secara psikologis dan politis, NU menunjukkan kecenderungan untuk mempertahankan harmoni sosial dan menghindari konflik terbuka, sebuah warisan dari pendekatan tradisional dan pesantren yang mengutamakan ketertiban dan adab. Kedekatan PBNU dengan negara akhir-akhir ini (lihat kasus konsesi tambang dan lainnya) juga mendapat beberapa sorotan kritis dari para cendikiawan, bahkan dari tubuh NU itu sendiri, seperti Nadirsyah Hosen.

Kecenderungan semacam itu sering kali rentan dimanfaatkan oleh elite politik untuk memobilisasi dukungan atau membungkam kritik dengan mengatasnamakan nasionalisme religius. Oleh sebab itu, suara-suara progresif di kalangan intelektual muda dan aktivis pesantren yang mencoba menafsirkan ulang nasionalisme Islam dalam kerangka keadilan sosial dan hak asasi manusia harus terus dijaga. Artinya, slogan Hubb al-Wathan Min al-Iman harus senantiasa dimaknai ulang dengan adil agar tidak terjebak pada konservasi loyalitas.

Penutup

Sebagai penutup, dapat ditegaskan bahwa slogan Ḥubb al-Wathan Min al-Iman bukanlah sekadar ungkapan simbolik tanpa makna, tetapi merupakan representasi dari dialektika panjang antara keislaman dan kebangsaan dalam sejarah umat Islam, khususnya dalam tradisi Sunni. Melalui KH Hasyim Asy‘ari, slogan ini mengalami transformasi sebagai bentuk teologis sekaligus ideologis yang mendukung perjuangan kemerdekaan dan pembentukan identitas nasional Indonesia.

Namun demikian, dalam konteks kekinian, pemaknaan terhadap slogan ini tidak boleh berhenti pada loyalitas kosong terhadap negara, melainkan harus terus dihidupkan sebagai energi moral untuk merawat kebangsaan yang adil, kritis, dan berpihak pada rakyat. Dengan begitu, semangat Hubb al-Wathan Min al-Iman tetap relevan sebagai fondasi etis dalam membangun masyarakat yang berdaulat secara politik, bermartabat secara sosial, dan berkeadilan secara spiritual.

*Juara 2 Lomba Penulisan Esai “Aktualisasi Pemikiran KH Hasyim Asy’ari” dalam rangka perayaan ulang tahun ke-6 jejaring duniasantri, Agustus 2025. Naskah asli berjudul “Membaca Ulang Hubb al-Watan min al-Iman: Telaah Pemikiran Politik KH Hasyim Asy’ari dan Relasi Agama-Negara dalam Tradisi Suni”.

Referensi

AM, Ahmad Muntaha. Siapa Bilang Hubbul Wathan Minal Iman itu Hadis Nabi? Nuonline. 2022. Diakses pada 7 Agustus 2025. https://islam.nu.or.id/ilmu-hadits/siapa-bilang-hubbul-wathan-minal-iman-itu-hadits-nabi-QRxgP

Asiah, Nur., Subakti, Ganjar Eka. “Upaya Nahdlatul Ulama dalam Melawan Kolonialisme dan Imperialisme pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia 1926 – 1942.” Misykat al-Anwar. Vol. 7, No. 2 (2024).

Tinggalkan Balasan