Slogan Trump yang terkenal, “Make America Great Again,” muncul sebagai akumulasi dari permainan ethnoscape dan ideoscape untuk mendefinisikan ulang nasionalisme Amerika. Kasus Perancis dan Amerika menunjukkan bahwa makna nasionalisme dapat berubah oleh dinamika sosial, dan dapat diubah oleh aktor atau maksud tertentu melalui salah satu atau beberapa faktor prinsipilnya.
Indonesia pra-kemerdekaan mendapat nasionalismenya dari dua arah. Pertama dari kalangan cendekia. Dan kedua, dari aktivisme pers akar rumput. Beasiswa studi bagi elite pribumi dari pemerintah kolonial mulanya diarahkan untuk keperluan politik etis agar elit pribumi berpihak pada pemerintah kolonial. Akan tetapi, di Belanda, elite-elite seperti Hatta dan Sjahrir mengalami gejolak dan pengendapan dalam batin soal identitas, kebangsaan, dan ketercerabutan sosial dirinya.

Sepulang dari Belanda, renungan dan gejolak tadi berubah menjadi energi nasionalisme yang menegasi kekuasaan pemerintah kolonial di Hindia Belanda. Di lain pihak, surat kabar seperti Bromartini (1855), Surat Chabar Betawie (1858), Bintang Timoer (1862), Djoeroe Martini, dan Bianglala (1867) membantu merangsang imajinasi komunal masyarakat akar rumput, khususnya kalangan dari kelas dua (etnis Cina dan Arab) dan kelas tiga (pribumi) (Abidin, 1980).
Elite cendekia dan masyarakat akar rumput disatukan oleh pengalaman patriotik dalam saga pertempuran melawan koloni Belanda dan Jepang di berbagai wilayah di Hindia Belanda. Epik pertempuran, semangat patriotisme dan gairah revolusi adalah beberapa token utama bagi nasionalisme Indonesia awal. Pada periode ini, wacana utama nasionalisme berasal dari ‘ancaman asing’ dan ‘ketahanan bangsa’, sebagai hasil dari dinamika ethnoscape masa itu.
Pengukuhan pada gairah nasionalisme itu juga diberikan, sekaligus diperdebatkan, oleh tiga kelompok: nasionalis, Islam, dan komunis. Gerakan-gerakan pemuda seperti Boedi Oetomo, dan sejenisnya memotori konsolidasi pemuda akar rumput sambil mendeliberasi elite-elite cendekia. Organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, memberikan justifikasi etis dan religi atas perlawanan-perlawanan komunal terhadap koloni. Kelompok komunis juga menggarisbawahi soal solidaritas, pemerataan kekayaan, dan evaluasi sistem ekonomi.
Sumbangan-sumbangan itu adalah pengalaman bersama yang selanjutnya menjadi memori kolektif. Di awal kemerdekaan, gairah nasionalisme banyak berasal dari faktor ethnoscape dan ideoscape: dentitas sosial mendapat perekatan komunal dari perasaan keterancaman kedaulatan bersama. Hal ini kemudian berubah di masa Orde Baru.

2 Replies to “Membaca Ulang Nasionalisme Indonesia di Awal Kemerdekaan”