Di Eropa, kekerabatan berbasis bahasa perlu berkontestasi dengan model politik lama berbasis religi. Di Perancis, selain karena basis bahasa, imajinasi kekerabatan tumbuh dipantik oleh pengalaman patriotik Napoleon dan pengalaman kelam terhadap feodalisme. Di Indonesia, dan sebagaimana umumnya kawasan Asia Tenggara lainnya, nasionalisme tumbuh bukan karena bahasa, melainkan pengalaman patriotik melawan penjajah di suatu wilayah teritori tertentu.
Kesamaan nasib tersebut mendorong keinginan kolektif untuk mengukuhkan diri dalam satu model nation, atau ikatan sosial berlapis kedaulatan politik. Berbedanya basis nasionalisme di berbagai daerah menyiratkan bahwa nasionalisme bukanlah sesuatu yang stagnan. Nasionalisme adalah sesuatu yang dinamis, yang dalam prisma pemikirannya Arjun Appandurai (1996), tergantung pada: ethnoscape, technoscape, financescape, mediascape, dan ideoscape.

Ethnoscape bertautan dengan status, komposisi dan posisi demografi ras, identitas, agama, dan etnisitas. Interaksi dengan aneka identitas merangsang konsern, kesadaran dan imajinasi sosial tertentu. Technoscape menyangkut soal teknologi dalam memfasilitasi kecepatan melintas batas teritori. Dari perlintasan itu muncul pertukaran informasi, identitas, dan bahkan pengalaman baru yang signifikan bagi bentuk imajinasi kekerabatan yang terbayang.
Financescape berkaitan soal mekanisme pasar, pergeseran serta sirkulasi komoditas, dan identitas penggerak ekonomi. Mediascape adalah kemampuan piranti elektronik memfasilitasi pertukaran informasi dalam aneka bentuk. Ideoscape atau otoritas negara berkaitan dengan ideologi dan beragam gerakan yang berusaha merebut sebagian atau seluruh kedaulatan negara.
Sebagai contoh, pengalaman Revolusi dan perang Napoleonik di Perancis adalah faktor ideoscape dan financescape bagi nasionalisme di Perancis. Ratusan tahun setelahnya, ketika Syiria dan beberapa negara Timur Tengah mengalami krisis kemanusiaan, banyak negara-negara Eropa, termasuk Perancis, didatangi pengungsi (refugees) dari sana. Ethnoscape Eropa berubah. Sebagian kontestan politik memainkan nasionalisme nativis sebagai kartu elektoral dan kebijakan populis.
Di Amerika, ketika pergaulan generasi muda-nya mengalami kosmopolitanisasi, dan gerakan progresif seperti Black Lives Matter serta aktivisme LGBTQ+ mengalami musim semi, Donald Trump ‘merevitalisasi’ nilai-nilai lama ke-Amerika-an dengan menggunakan sentimen rasial kulit putih, anglo-saxon, Protestan (White Anglo-Saxon Protestan/WASP). Strategi Trump lainnya adalah antagonisasi orang Latino dan Negro dengan tuduhan ‘krimial,’ ‘penyelundup narkoba’, dan ‘pemerkosa’.

2 Replies to “Membaca Ulang Nasionalisme Indonesia di Awal Kemerdekaan”