“Agama seharusnya hadir untuk membawa cahaya yang menerangi hati, mencerdaskan pikiran, dan mendamaikan kehidupan bersama. Tetapi ia acap berubah menjadi api yang menyala, membakar, dan petaka yang menghancurkan bangunan sosial.” (hlm. 11)
Begitulah kurang lebih apa yang dikata oleh para bijak-bestari. Perkataan tersebut dikutip dari beberapa tulisan KH Husein Muhammad, baik yang berupa buku maupun artikel di media massa.

Ucapan tersebut patut menjadi bahan renungan bersama. Di mana belakangan ini kita banyak disuguhkan berbagai berita negatif yang berkaitan dengan agama. Seperti kekerasan dengan berlandaskan jihad atau membela agama, merasa paling benar sendiri dalam beragama, dan segala tindak-tanduk lain yang menimbulkan keretakan antarsesama muslim. Atau bahkan dengan umat beragama lain.
Padahal, Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai hidayah dan rahmat bagi seluruh alam. Dalam hal ini, Islam berarti memberikan kebaikan, kenyamanan, keselamatan, dan kedamaian bagi seluruh alam. Berbuat zalim antarsesama manusia, mengusik ketenangan hewan, serta merusak lingkungan bukanlah ciri muslim yang rahmatan lil ‘alamin.
Buku berjudul Memahami Cita-Cita Teks Agama ini adalah karya KH Husein Muhammad, tokoh agama yang terkenal dengan pemikiran feminismenya. Buku ini berisikan esai-esai Buya Husein, panggilan akrabnya, yang akan membuka mata kita untuk memahami agama secara utuh. Pemahaman yang diperoleh dengan memperhatikan dimensi historisitias, rasionalitas, dan kontekstualitasnya di masa kini.
Rasionalisme-Kontekstualisme Teks Agama
Memahami teks agama tidak cukup jika hanya dimaknai secara literal (harfiah). Memahami teks-teks agama secara literal, tanpa memperhatikan tujuan agama, dapat berpotensi menghasilkan pemahaman agama yang kering, dangkal, dan tidak relevan dengan kehidupan.
Meminjam analogi dari Ngatawi al-Zastrouw, orang yang memahami agama secara harfiah ibarat orang yang menyiram tanaman di saat hujan lebat. Ia melakukan hal tersebut dengan dalih menjalankan perintah, tanpa mengetahui esensi dan tujuan perintah tersebut. Padahal jelas, jika terjadi hujan maka tanaman akan tersiram air secara otomatis.
