Membaca Ulang Teologi Pembebasan dalam Islam

Dengan demikian, Al-Quran mengakui bahwa sedekah sering diberikan karena ingin pamer dan pemberi sedekah sering mempunyai perasaan superior yang diwujudkan dengan mencela dan melukai perasaan si sedekah. Dengan kiasan yang indah, Al-Quran megemukakan dengan jelas bahwa pemberian sedekah seperti itu akan gagal mencapai tujuannya yang nyata dan tidak bisa membantu menciptakan masyarakat yang adil.

Seperti ditunjukkan oleh pengalaman manusia bahwa kebanyakan pemberi sedekah jatuh dalam kategori ini: pemberi sedekah tidak akan membentuk tatanan sosial yang adil. Konflik dan ketegangan timbal balik antara yang punya dan yang tidak punya tetap akan membuatnya tidak stabil.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kiasan Al-Quran tentang tanah di atas batu yang dihanyutkan oleh curah hujan pertama memperjelas bahwa masyarakat seperti itu tidak bisa mengembangkan dasar-dasar yang kokoh.
Keadilan merupakan kepentingan utama dalam teologi pembebasan Islam. Orang harus adil, meskipun terhadap dirinya sendiri, teman dekatnya, atau kekasihnya sendiri. Seseorang tidak boleh dipengaruhi oleh hawa nafsu karena hal itu akan mendorong berbuat zalim, merugikan keadilan yang dijunjung tinggi oleh Islam.

Teologi pembebasan, dengan demikian, harus menjadikan keadilan sebagai pusat perhatian. Sering kali, teolog-teolog tradisional asyik dengan persoalan-persoalan metafisika dan peribadatan, tetapi mengabaikan persoalan-persoalan keadilan sosial dan menganggap eksistensi kekinian ini sebagai masalah nomor dua. Teologi pembebasan berusaha menenkankan kembali titik pehatian Islam, yakni keadilan sosial dengan prioritas utama pembebasan kelompok-kelompok lemah dan masa tertindas; pembentukan kembali masyarakat yang bebas dari kepentingan-kepentingan primordialistik.

Teologi pembebasan mengarahkan pada terciptanya masyarakat “tanpa kelas” yang menjadi tujuan sejati dari masyarakat tauhid. Oleh karena itu, teologi pembebasan dipertentangkan dengan gerakan yang berusaha memunculkan kembali isu-isu tradisional, dan dengan demikian membuka ruang tradisonal dengan problem-problem dunia kontemporer, seperti eksploitasi ekonomi, ketidakadilan sosial, dan mendukung perjuangan anti-imperialisme untuk membeaskan masyarakat dunia ketiga dari cengkaraman kjekuatan imperialisme itu .

Penutup

Nilai penting dari konsep pemikiran Asghar Ali Engineer adalah tentang pembongkaran atas konsep mukmin dan kafir. Seorang mukmin bukanlah sekadar orang yang percaya kepada Tuhan, melainkan juga ia mau berjuang menegakkan keadilan dan melawan segala bentuk kezaliman dan penindasan. Jika tidak, ia masih digolongkan sebagai orang kafir, meskipun ia percaya kepada Tuhan.

Dengan demikian, suatu istilah kutukan, seperti kafir tidak hanya bermakna ketidakpercayaan religius, seperti yang diyakini teologi-teologi tradisional, tetapi secara tidak langsung juga menyatakan penantangan terhadap masyarakat yang adil dan egaliter serta bebas dari segala bentuk eksploitasi dan penindasan.

Jadi, orang kafir adalah orang yang menentang usaha-usaha yang jujur untuk membentuk kembali masyarakat, menghapus penumpukan kekayaan, penindasan, eksploitasi, dan segala bentuk ketidakadilan.

DAFTAR PUSTAKA
Asghar Ali Engineer, Islam dan Pembebasan, LkiS, Yogyakarta (2016).
Rizki Firdawati, “Islam dan Teologi Pembebasan”, Digital Journal Al-Manar, Edisi 1 (2004).
Risalatul Hukmi, “Islam dan Teologi Pembebasan: Sebuah Rekonstruksi Awal”, esai (tt).
Siti Khusnul khotimah, “Fiqh Feminis Perspektif Asghar Ali Engineer”, Jurnal An-Nisa 8 (2015).

Tinggalkan Balasan