Membangkitkan Literasi Intelektual di Pesantren Ala Lirboyo

Acapkali kita temukan orang yang senang berbicara tentang pentingnya suatu gagasan. Entah itu tentang isu sosial, pendidikan, ataupun agama. Hanya, tidak semua orang bersedia meluangkan waktu untuk menuliskannya. Padahal, sebuah gagasan benar-benar menjadi abadi ketika ia berhasil dituangkan dalam bentuk karya tulis.

Pesantren sesungguhnya memiliki modal besar untuk membangun tradisi literasi. Budaya membaca kitab, mengkaji pendapat ulama, hingga berdiskusi dalam forum bahtsul masail telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari santri. Namun lagi-lagi, kemampuan mentransformasikan hasil pembacaan dan diskusi tersebut ke dalam karya tulis ilmiah masih menjadi tantangan tersendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mengutip Andreas Mazland (2020), lemahnya budaya menulis di pesantren setidaknya disebabkan oleh dua hal: keterampilan menulis belum dilatih secara serius di lingkungan pesantren dan motivasi menulis belum ditanamkan sekuat tradisi menghafal (Mazland, 2020).

Di tengah tantangan tersebut, sejumlah pesantren mulai berupaya membangun budaya kepenulisan yang lebih sistematis melalui forum literasi yang dibentuk secara khusus. Salah satu contoh menarik dari upaya menjawab tantangan tersebut dapat ditemukan di lingkungan Ma’had Aly Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, melalui Tim Forum Kajian Ilmiah (FKI).

Literasi Berbasis Pesantren

Keberadaan Tim FKI menjadi salah satu ikhtiar Ma’had Aly Lirboyo dalam mengembangkan budaya literasi berbasis pesantren yang dibentuk dengan tujuan menyusun karya ilmiah sebagai sebagai bentuk kontribusi akademik (Suryono, 2026).

Forum ini dibentuk setiap tahun dengan anggota khusus dari mahasantri Ma’had Aly Lirboyo. Proses penyusunannya diproyeksikan selama dua tahun, yaitu sejak semester III hingga semester VI. Selama proses penyusunan, berbagai tahapan dilakukan secara serius. Mulai dari diskusi tema, penyusunan kerangka pembahasan, wawancara, konsultasi dengan dosen pembimbing, koreksi naskah, hingga pentashihan.

Sebelum sebuah tema disetujui untuk ditulis, rancangan tersebut terlebih dahulu harus melalui sidang uji kelayakan yang melibatkan Pengurus Bidang Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah (BP2KI) Ma’had Aly Lirboyo, dosen pembimbing, dan anggota Tim FKI sendiri. Melalui proses tersebut, setiap karya yang dihasilkan diharapkan memiliki kualitas akademik yang layak untuk diterbitkan.

Dapat dikatakan, Tim FKI berupaya menghadirkan budaya menulis dan penelitian dengan berangkat dari tradisi keilmuan yang telah lama hidup di pesantren. Berbagai tema sosial, keagamaan, hingga kebangsaan dikaji secara serius melalui diskusi yang panjang. Demikianlah apa yang disebut revitalisasi keilmuan klasik dan mengintegrasikannya dengan ilmu-ilmu modern.

Dari Mengaji ke Menulis

Keberadaan FKI membuktikan lembaga pesantren selain menjadi pusat transmisi keilmuan Islam klasik juga sebagai ruang produksi ilmu-ilmu keislaman. Tradisi keilmuan yang selama ini hidup melalui pengajian kitab berusaha diterjemahkan ke dalam bentuk penelitian dan karya tulis yang dapat dibaca oleh masyarakat yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan