Lalu, mengapa pesantren lebih akrab dengan Al-Ghazali daripada Ibnu Rusyd? Apakah karena Ibnu Rusyd dianggap terlalu filosofis dan rasional, sehingga tidak sesuai dengan tradisi Islam yang berkembang di Timur? Ataukah ada faktor sejarah yang membuat pemikirannya kurang diterima?
Karya Ibnu Rusyd Tak Populer

Ada beberapa alasan mengapa kitab-kitab Ibnu Rusyd kurang mendapat tempat di pesantren.
Pertama, perbedaan pendekatan dalam memahami Islam. Pesantren lebih mengutamakan pendekatan tekstual dalam memahami agama. Dalam tradisi ini, kitab-kitab fikih, tafsir, dan tasawuf yang bersumber dari ulama seperti Al-Ghazali, Imam Syafi’i, atau Imam Nawawi lebih mudah diterima. Sementara itu, pemikiran Ibnu Rusyd lebih bersifat filosofis dan berupaya mencari titik temu antara akal dan wahyu.
Bagi sebagian kalangan, pendekatan Ibnu Rusyd dianggap berisiko karena membuka ruang bagi rasionalisme yang berlebihan. Beberapa ulama khawatir bahwa santri yang terlalu mendalami filsafat akan lebih mengutamakan akal daripada wahyu, yang bisa mengarah pada pemikiran sekular.
Kedua, dominasi pemikiran Al-Ghazali dalam dunia Islam. Al-Ghazali memiliki pengaruh besar dalam membentuk tradisi intelektual Islam. Ia berhasil menggabungkan fikih, tasawuf, dan teologi dalam satu sistem pemikiran yang mudah dipahami dan diterapkan. Di dunia pesantren, kitab-kitabnya menjadi rujukan utama, sehingga pemikiran yang bertentangan dengan Al-Ghazali sering kali dianggap tidak relevan.
Sebaliknya, Ibnu Rusyd lebih banyak dikenal sebagai seorang filsuf daripada seorang ulama fikih. Pemikirannya lebih berkembang di dunia akademik Barat daripada di lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional. Ini membuat namanya kurang dikenal dibandingkan Al-Ghazali, meskipun ia juga seorang ulama besar dalam bidang fikih Maliki.
