Membayangkan kitab-kitab Ibnu Rusyd dikaji di pesantren bukanlah sesuatu yang mustahil. Justru, ini dapat menjadi langkah maju dalam memperkaya wawasan santri dan membuka ruang bagi dialog yang lebih luas antara Islam dan dunia modern. Jika Al-Ghazali telah lama menjadi rujukan utama dalam pendidikan Islam tradisional, mengapa tidak membuka ruang bagi Ibnu Rusyd? Dengan demikian, pesantren tidak hanya melahirkan ulama yang memahami agama secara mendalam, tetapi juga intelektual Muslim yang siap menghadapi tantangan zaman.
