MEMBUNUH TUHAN
Drama-drama, topeng-topeng,
menghindari wajahnya sendiri.
Kebohongan-kebohongan ilusif, kenaifan,
menghakimi nuraninya sendiri.

Tuhan dibunuh dalam setiap kesenangan,
Dalam kebuasan hasrat yang membabi buta,
dan Tuhan dihidupkannya kembali pada tembok ratapan;
kegelisahan, kesusahan, penderitaan-penderitaan,
yang lebih ironis ialah ketidakberdayaan dalam kedok-kedok doa;
mantra-mantra bagi mereka serupa kekuatan, eskapisme dan ritus-ritus yang menghindar dari kenyataan.
Mereka hidup dalam keputusasaan,
berlaga dungu dalam kepanikan,
keloyoan hidup dalam kemalasan,
menampilkan kelemahan dalam heroisme pasif,
Tuhan abadi dalam kekalahan manusia.
Oktober, 2023.
TEMARAM
Pendar-pendar jingga di kaki langit
Hening petang asuhan waktu
Tarian angin lukisan awan
Hanyut lelaki menuju peraduan
Sentimental arusnya, membungkuk ia dalam penghayatan
Temaram tiba di dada, di kepala
Gelegak impian dan batu-tarungnya,
perlawanan dan penyerahan situasi hidupnya menjadi cakrawala
Lelaki menjelma manusia kata
Dipahaminya bahasa agin, matahari, ufuk, keheningan, waktu, dan semesta
Halus merangkul, melipat ruang dan waktu
Lelaki menyanyikan lagu bisu
Di kejarnya bayang-bayang, ditangkapnya cahaya
Lelaki tenggelam dalam telaga air mata
