Terjalnya jalan telah melukai menyayat langkah demi langkah lunglainya. Warna merah yang mengalir dari tungkai kakinya, menyisahkan bercak-bercak di tanah. Masih dengan dendangan lagu yang ngilu jika didengarkan, ia memasuki lembah demi lembah. Matanya tajam menatap ke depan, hanya ke depan saja. Wajah kekasihnya seperti sedang menuntun langkahnya menuju sebuah tujuan yang entah. Sementara itu, tak lupa di belakangnya bergerombol aneka satwa, seakan menjadi pengawal setia perjalanan.
Di kolong gulita langit, ketika dingin menggigit kulit dan jerit petir menggelegar

Aku menulis namamu di kesunyian yang paling asing. Kutulis namamu satu
Demi satu abjadmu kuucap amat fasih, kunyanyikan setiap huruf dengan suka cita
Tahukah engkau, begitulah caraku membelanjakan berkantung tabungan gelisah.
Aku ingin dekat dekapmu saja, aku ingin dekat dekapmu saja. Demikianlah.
Biarpun ribuan tebasan pedang, aku ingin selalu merasa dekat dekapmu saja.
Sebab sepasang matamu yang cerlang itu cukup meredam ngilunya nestapa.
Ya, begitulah, engkau selalu bisa membuatku melupakan lara luka berdarah.
