Entah di hari apa itu, di bulan apa itu, dan di wilayah mana itu, ia kembali menancapkan pasak rindurindunya ke tanah dan dada. Apakah cukup sampai di sini saja penggembaraannya menjadi paripurna? Entah. Rembulan, pepohonan, angin dan malam tak tahu. Tak ada yang pernah tahu. Begitulah.
Ketika pintu malam telah terbuka, Aku, memilih jalan menuju penghabisan rindu

Kutimba kesunyian dari bening matamu. Gelap yang sungsang di cangkir kuteguk
Seperti malam-malam lalu, kerinduan ini mendepak jiwa ke pergulatan yang megah
Sunyi dan gulita adalah tilam bagi pengembara. Dan wajahmu senantiasa cahaya.
Bila di tengah jalan kuberuntung mendapati nyanyian brenggala, di situlah aku
Menengadahkan telapak yang papa, kutadahi gerimis tuah yang luruh, membatu
Aku memasuki labirin cintamu. Kunikmati setiap nyeri langkah yang bergelora itu
Sambil kubisukan nyanyian, kurayakan rintihan, aku, menandaskan kudapan manis cintamu.
