MEMOAR MAJNUN

 

Entah di hari apa itu, di bulan apa itu, dan di wilayah mana itu, ia kembali menancapkan pasak rindurindunya ke tanah dan dada. Apakah cukup sampai di sini saja penggembaraannya menjadi paripurna? Entah. Rembulan, pepohonan, angin dan malam tak tahu. Tak ada yang pernah tahu. Begitulah.

 

Ketika pintu malam telah terbuka, Aku, memilih jalan menuju penghabisan rindu

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kutimba kesunyian dari bening matamu. Gelap yang sungsang di cangkir kuteguk

Seperti malam-malam lalu, kerinduan ini mendepak jiwa ke pergulatan yang megah

Sunyi dan gulita adalah tilam bagi pengembara. Dan wajahmu senantiasa cahaya.

 

Bila di tengah jalan kuberuntung mendapati nyanyian brenggala, di situlah aku

Menengadahkan telapak yang papa, kutadahi gerimis tuah yang luruh, membatu

Aku memasuki labirin cintamu. Kunikmati setiap nyeri langkah yang bergelora itu

Sambil kubisukan nyanyian, kurayakan rintihan, aku, menandaskan kudapan manis cintamu.

Tinggalkan Balasan