Nyadran

Memposisikan Relasi Agama dan Budaya

Dalam penyebaran Islam, dalam berdakwah, Walisongo tidak begitu saja memotong bahkan menghilangkan tradisi semacam itu. Tradisi yang sudah lestari selama berabad-abad secara turun temurun, oleh Walisongo dipadukan dengan budaya Islam. Walisongo menyisipkan ajaran Islam yang mereka bawa, sehingga islam datang diterima secara arif oleh masyarakat yang kebudayaanbya bercorak Hindu-Budha.

Dalam dakwahnya, Walisongo tidak memisahkan ajaran Islam dalam kebudayaan masyarakat yang sudah melekat secara emosional. Namun, di saat yang sama nilai ajaran Islam tetap bisa tersampaikan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di sinilah peran dakwah Islam yang harus kita lestarikan, yaitu membantu mencarikan jalan tengah, dan tidak memangkas bersih kebudayaan yang sudah mengakar di masyarakat. Model dakwah dan ajaran yang seperti ini sangat penting sekali untuk dilestarikan demi menjaga keutuhan dan kesatuan yang utuh dalam bermasyarakat.

Tidak kalah penting juga peran fikih terhadap kebudayaan untuk meresponnya secara solutif dan adaptif. Dengan demikian, fikih dapat menjawab pertanyaan yang acap kali bersliweran di kepala kaum awam yang menghadapi dilema antara meninggalkan dan melestarikan kebudayaan lokal.

Demikianlah salah satu jalan tengah untuk melerai ketegangan antara kebudayaan dan Islam. Akhir kata mengutip kata dari seorang kiai yang dikenal masyhur dengan sebutan bapak pluralisme, yaitu Gus Dur:

“Ketegangan yang selalu terjadi itu bukan sesuatu yang harus ditangisi dan disesali, karena justru dapat memberikan peluang-peluang bagi kita untuk selalu berusaha menjembataninya.”

Penjelasan Gus Dur tersebut dapat dijadikan inspirasi dan motivasi bagi kita untuk selalu belajar dan selalu menghargai perbedaan serta ketegangan di dalam kebudayaan masyarakat yang bersifat plural.

Tinggalkan Balasan