Nyadran

Memposisikan Relasi Agama dan Budaya

Dalam tradisi nyadran sendiri yang di dalamnya terdapat mantra-mantra dan sesaji sebagai suguhan untuk para leluhur, sudah digantikan dengan bacaan Qur’an, zikir, tahlil, dan makan bersama yang tidak lain dengan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan.

Hal ini jika terus dibiarkan akan berakibat fatal terutama dalam paham masyarakat tentang Islam. Sehingga masyarakat memiliki asumsi bahwa Islam yang dibawa Nabi begitu kurang relevan dan kurang rahmatan lil-alamiin. Karena kontradiksi antara kebudayaan dan Islam yang dipandang secara sepotong, dan menganggap Islam yang berada di Indonesia ini adalah Islam yang tidak lagi murni.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam kasus ini, fikih dapat dijadikan jembatan untuk melerai perdebatan yang terjadi baik secara akdemis atau debat tongkrongan.

Dengan sejumlah kaidah dan ushul fikih,  di antaranya yang sangat familiar, yaitu al-‘adatu muhakkamah (adat kebiasaan bisa dijadikan hukum). Namun, para ulama juga memberikan standar, bahwa yang dirujuk adalah kebiasaan tertentu, yakni kebiasaan yang membawa manfaat atau kebaikan bagi masyarakat. Hal ini biasa dikenal dengan istilah urf. Urf dengan derivasi lafazhnya sama dengan ma’ruf (sesuatu yang dianggap bagus) (Asni, 2017).

Urf juga merupakan dasar metodologi ulama dalam mengeluarkan hukum. Sehingga para ulama dalam mengeluarkan suatu hukum selalu melihat dari kebiasaan yang terjadi di sekitarnya.

Berdasarkan kajian ulama, urf dikategorisasi ada yang batil (tidak sesuai dengan prinsip Islam) dan sahih (sesuai dengan prinsip Islam). Tentu yang dapat dijadikan standar acuan adalah urf yang sahih. Dari sini dapat dimengerti bahwa hukum fikih tidak selalu mutlak dan digeneralisasikan. Fakta tersebut dapat kita pakai dalam konteks indonesia ini (Asni, 2017).

Kita lihat dalam tradisi nyadran atau ruwahan masyarakat saling bahu membahu menuju pemakaman untuk melaksanakan tradisi yang sudah melekat dalam jiwa masyarakat. Dalam sejarahnya, ruwahan atau nyadran merupakan tradisi warisan Hindu yang di dalamnya dipenuhi ritual-ritual ke-hindu-an, seperti membaca mantra-mantra serta membawa makanan sebagai sesaji untuk para leluhur yang mereka yakini memiliki keramat.

Tinggalkan Balasan