Mereka kebanyakan datang dari Jawa Barat, alias bukan orang lokal. Orang lokal hanya menyewakan lahan, sebab nyali mereka ciut. Mereka juga cuma petani biasa atau peternak, sebagian malah jadi perantau ke kota-kota besar. Banyak yang merantau ke kota besar karena tidak punya sawah atau memang karena tidak mau menggarap sawah. Akhirnya sawah dijual untuk merantau sampai luar negeri.
Pemilik lahan yang menyewakan lahan itu sudah kaya raya, rumahnya mentereng, punya mobil, bisa beli sawah baru di kaki bukit itu. Pokoknya sudah dihormati sama warga kampung. Tapi nasib para penambang tidak semujur nasib para pemilik tanah itu. Bayangkan, bahwa satu lubang yang telah dikapling di atasnya tidak menutup kemungkinan ketika sudah digali di dalamnya mereka melewati batas satu sama lain. Lubang itu tidak dibuat lurus ke bawah seperti sumur, tapi zigzag. Lubang juga tidak dibuat ukurannya sesempit sumur, tetapi di dalamnya menyerupai terminal. Andaikan ada empat atau lima gajah dimasukkan ke dalam ruang di dalam lubang itu masih cukup.
Di arena tambang-tambang itu sering terjadi perebutan dan pertengkaran hingga saling bunuh ketika batas-batas di bawah lubang itu sudah tidak sesuai dengan luas tanah yang disewa. Bahaya lain tentu saja ketika ada gempa atau tanah bergeser, maka lubang di bawah yang sudah menjalar ke mana-mana seperti terowongan tikus itu, bahkan ada yang sampai menjangkau ke pemukiman warga, akan mengancam rumah-rumah warga. Bisa saja tanah bagian atas itu ambles karena lubang-lubang yang telah begitu lebar menganga, menyebabkan tanah di permukaan tidak mampu menahan beban.

Yang paling tidak disukai Hasan adalah kegiatan grup penambang yang memiliki ritual ngombe ciu sebelum masuk ke dalam rongga-rongga itu menjadi serupa tikus yang ingin mencuri emas dari perut bumi. Katanya biar mereka tidak takut dan memiliki keberanian. Biar tidak merasa sesak dan khawatir. Menurut pendapat beberapa orang warga, kegiatan mereka itu dianggap sebagai kegiatan persekongkolan dengan setan agar mendapat bantuan jin supaya bisa menemukan emas.
Sebagai seorang penambang, Wirya telah belajar bagaimana mendekteksi emas. Ia telah belajar pada orang pintar atau dukun, tentang bagaimana emas itu bergerak dan juga keberadaannya di mana. Jadi ia percaya, bahwa hokinya itu disebabkan karena ia sudah ampuh mendeteksi gerak emas, yang katanya terus bergeser ketika kita memburunya. Ia sudah bisa menebak ke mana gesernya emas itu dari titik semula ia menemukannya.
Kabarnya ilmu semacam itu didapat guru spiritualnya daripada kisah tentang Qorun yang memiliki pengetahuan untuk membuat emas pada zaman nabi Musa, tetapi karena ia sombong, ia pun ditenggelamkan oleh bumi. Wirya ingin mengajarkan ilmu itu pada Hasan, tetapi urung sebab dianggapnya anak itu belum cukup mahir untuk masuk ke dalam lubang.
Di sore itulah para penambang berkumpul di spotnya masing-masing. Kebanyakan sudah menyediakan stok ciu untuk amunisi saat giliran memasuki lubang yang gelap itu. Hasan yang kurang suka minum pun harus ikut menegak ciu agar ia tidak merasa sesak dan takut.
Kemarin sepulang dari menambang, Hasan memang terlihat paling cemas. Matanya merah bukan karena ciu, tetapi karena perih kena debu dan capai sebab harus melek terus di tengah kepungan kegelapan. Ia sudah dinasihati agar minum ciu yang cukup biar perjalanannya di bawah tidak membuatnya seperti pengecut. Agar ketika menemukan emas dan kebetulan berpapasan dengan penambang lain yang masuk lahan untuk merebut emas itu, ia sudah siap berkelahi hidup atau mati.
Hasan sudah diajari aji untuk melawan para penambang emas yang ingin dapat emas secara instan. Tapi ia tidak mendengar nasihat itu. Ia turun ke bawah dalam keadaan masih sadar dan segar bugar. Itulah sebabnya ia trauma. Itulah sebabnya ia sesak. Itulah sebabnya ia cepat-cepat naik ke permukaan untuk istirahat. Di sisi lain, sebenarnya Hasan teringat nasihat guru ngajinya dulu, Mbah Dullah, bahwa minuman keras itu haram dan berbahaya bagi kesahatan. Tapi karena suatu keharusan dan ketidakenakannya, ia pun mengalah.
“San, minum ciunya yang banyak. Jangan turun dalam keadaan tidak mabuk. Nanti kamu kayak pengecut, kayak curut. Cuma bisa lari-larian kalau ketemu hewan atau lihat bayangan sendiri. Ayo tambah lagi segelas ciunya, aku tunggu kamu mabuk,” ucap Mang Arya mengulang omongannya semalam.
“Aku nggak kuat minum, Mang. Perut terasa mual,” jawab Hasan sedikit memelas agar tidak dipaksa minum ciu terlalu banyak.
“Aduh, gimana ini Akang Wirya, Hasan tidak kuat ciu. Anaknya Maryani ini memang terlalu lemah seperti ayahnya! Si Maryani juga khawatiran, takut kalau kenapa-kenapa, padahal jadi lelaki itu harus berani dan gagah. Ya nggak, Kang Wirya?!”
Hasan terlihat tersinggung karena Mang Arya bawa-bawa nama bapaknya yang sudah meninggal akibat sakit yang dideritanya, dan ibunya yang selalu perhatian kepadanya. “Sialan, Mang Arya ini, aku ini sebenarnya tidak suka kok ikut menambang, hanya karena ingin membantu ibu saja. Aku kasihan ibu harus berpikir menyekolahkan adikku, kenapa sekarang ibuku malah dihina orang ini, brengsek!” ucap Hasan dalam hatinya.
“Tak apalah, Akang Arya. Hasan itu sedang belajar, janganlah dipatahkan semangatnya. Ia adalah penerus kita. Jika ada apa-apa pada kita kelak, Hasan inilah yang akan membantu keluarga kita. Ia akan mewarisi ilmuku, sebab anakku tidak ingin jadi sepertiku. Aku sudah menganggap ia seperti anakku sendiri. Janganlah terlalu keras padanya, Akang.”
“Ah, ya, iya. Tetapi sebagai pewaris kan harus tangguh, Akang. Aku hanya ingin mengajarkan bagaimana tangguh seperti pendekar. Ya kan, San? Jangan tersinggung kalau aku bawa-bawa orang tuamu,” ucap Mang Arya yang mengendur emosinya.
Hasan diam saja. Ia hanya memandangi cahaya di kejauhan, sambil sesekali teringat pada ibu, bapak, dan Mbah Dullah.
Senjakala sudah tiba. Burung-burung bernyanyi pulang ke sarang. Suasana di atas lahan tambang itu remang-remang. Suara orang-orang yang sudah mabuk terdengar silir-silir. Hasan masih duduk menunggu isi gelasnya dihabiskan. Di depannya, Mang Arya masih mengawasi agar ia segera menenggak sampai tandas ciu itu. Paman Wirya masih mondar-mandir di atas lubang yang semakin kelam itu, bersama dengan temannya satu grup.
“Kita masuk sekarang!” suara komando dari Paman Wirya.
“Ok. Aku juga sudah naik ini. Darahku sudah panas, tanganku tidak sabar ingin menggenggam bongkahan emas,” ucap Mang Arya.
