Menambang Air Mata*

“Menyebalkan! Setiap hari harus ikut paman menambang emas. Sudah seperti semut saja, tetapi bukan membawa masuk remah-remah ke dalam lobang, tetapi sebaliknya! Sialan betul hidupku,” keluh Hasan.

Sore itu didengarnya pintu kamarnya diketuk dan dipanggil keras-keras oleh Wirya, “Bangun, San. Hasan! Bangun! Ayo berangkat, Mang Arya sudah siap di depan.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Iya, iya. Tunggu sebentar,” kata Hasan mulai tak nyaman. Sambil bangkit dari tempat tidur, napasnya sesak. Dibayangkannya lagi ia seperti semut masuk lubang gelap, membawa senter di keningnya, sambil sesekali cemas, kalau-kalau ia tidak bisa lagi naik dan melihat langit malam dengan bintang-bintangnya yang gemerlap.

Ini adalah hari kelima ia ikut pamannya menambang emas di lokasi yang baru. Sebelumnya ia memang pernah diajak menambang emas ke tempat yang berbeda-beda, tetapi ia tidak pernah masuk ke dalam lubang. Ia hanya menunggu di atas untuk menaikkan material tanah dengan timba. Tapi kali ini ia harus masuk lubang, dan itu membuatnya trauma dan ingin berhenti saja.

Sebelum menambang di sini, pamannya mengajaknya menambang di sungai. Itu lebih menyenangkan karena sungai sedang surut-surutnya, dan ia bisa menyempatkan waktu menunggu sambil memancing ikan.

“Ayo cepet, San. Tidur lagi kamu?! Atau lagi ngelamun dapat emas segede kepala?” ucap Mang Arya sambil tertawa masuk ke ruang tamu rumah kontrakan, kemudian keluar lagi menuju halaman untuk memanaskan motor bebeknya.

“Hidup kok begini amat ya. Terlempar dari satu tempat ke tempat lain tanpa ada kepastian. Kenapa seluruh saudaraku tega membuatku begini sengsara. Mungkin ini sudah kehendak Tuhan. Aku hanya bisa pasrah menerima segala tiba,” gumam Hasan.

Ya, memang bulan lalu sebelum ia ditarik ke sini oleh pamannya, si paman mendapat emas cukup banyak. Itu bisa dikatakan bukan hanya balik modal, malahan untung. Bayangkan, jalur milik si paman yang menyewa dari pemilik tanah itu telah menghasilkan uang sehari dua puluh juta rupiah! Siapa tidak gila ingin ikut nambang emas agar segera kaya?

Tetangga Hasan sampai menawarkan diri untuk ikut karena sudah bosan kerja di pabrik, jadi mesin pencetak uang untuk si bos! Tetapi ketika produk kurang berjaya di pasar, tetangganya itu malah dipecat begitu saja! Sungguh malang!

“Hidup kok tanpa kepastian begini, seperti judi,” gumam Hasan lagi pada dirinya sendiri sebelum membuka pintu untuk segera berangkat.

“Cepetan, San, lama banget. Mikirin jodoh ya?”

“Iya, iya, Mang. Ini sudah gerak cepat, kok.”

“Gerak cepat kok kayak ulat begitu, cuma uget-uget di tempat.”

“Halah, Mang, ini sudah cepat, kok. Mang yang nggak sabaran mau dapat emas itu mah.”

Mang Arya hanya tertawa. Ia memang sudah menikah, anaknya dua. Yang satu sekolah, satu lagi masih kecil. Ia sedang semangat-semangatnya nyari duit biar anak bini bisa melanjutkan hidup. Kemarin karena paman jakpot, ia juga kebanjiran rezeki. Anak bininya bahagia sekali, bisa beli makan yang enak-enak. Beli baju, sepatu, alat-alat untuk mempercantik diri agar ketika Mang Arya pulang makin semangat buat nyari duitnya.

Begitu juga kehidupan keluarga pamannya. Paman Wirya pulang sehari langsung ngajak anak istri pergi ke mal, beli apa saja yang mereka mau. Anaknya yang sudah gede beli jaket dan jam tangan, katanya buat menggaet pacar. Adiknya beli sepatu sepak bola, katanya mau ikut kejuaraan tingkat kecamatan. Istrinya beli daster, lipstik, skincare, tas, katanya buat ketemu teman arisan. Keluarga mereka mendadak dihormati. Rumah lagi dibangun tingkat, motor baru sudah nangkring di halaman rumah, dan di samping rumah ada garansi mobil, walaupun belum ada mobilnya, tetapi sudah ada rencana bakal beli mobil. Paman Wirya bahagia sekali. Semangat tiap sore berangkat masuk lobang kayak semut hitam.

***
Di bukit itu banyak spot-spot penambang yang sudah dikapling-kapling dan disewakan. Memang di permukaan terlihat pagar-pagar kayu yang memisahkan lubang milik grup penambang mana, ada sekitar tujuh spot di sana. Satu lubang biasanya digarap oleh satu grup yang terdiri dari beberapa orang. Hasan kebetulan tergabung di grup pamannya, ada sekitar sembilan orang totalnya, ditambah satu orang yang siap memodali ketika para penambang itu kehabisan modal.

Tinggalkan Balasan