Menambang Air Mata*

“San, ayo masuk lubang! Habiskan dulu gelas itu biar jadi pendekar! Dan temukan emas untuk hadiah dirimu sendiri sebagai pewaris takhta pamanmu!”

“Akang Arya, Hasan tidak masuk lubang malam ini. Aku ingin dia berjaga di atas bersama Parjan dan Sarpin. Soalnya malam ini banyak pendekar yang turun gunung. Apalagi mereka sudah mendengar kalau lubang kita ini hoki. Aku tidak mau Hasan kenapa-kenapa di dalam. Biarlah ia berjaga di atas, jadi kalau ada apa-apa ia bisa selamat dan mencari petolongan kalau ada apa-apa pada kita.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Tapi,” sanggah Mang Arya. Sebelum sempat diteruskan Wirya sudah melanjutkan perkataannya.

“Kau harus ikut kataku kali ini, Mang. Kita sudah diincar. Jangan dikira hoki itu tidak membawa iri dan dengki. Kamu tahu kan, di sini kehidupan bukan seperti pendekar lagi, tapi lebih tepat begundal jahanam. Di sini semua berdarah didih melebihi preman dan penjagal. Di sini pula sudah banyak orang jadi korban. Mati di perut bumi tanpa diketahui oleh banyak orang. Isu yang tersebar di sekitar warga itu bukanlah kabar angin, memang benar-benar terjadi, Mang Arya.”

***
Di malam itu, sehabis Hasan pulang membawa makanan yang dibelinya untuk semua anggota dari grup penambang pamannya, ia kaget. Parjan yang baru saja naik dari lubang kelam itu mengatakan bahwa saluran lubang telah tertutup, dan air merembes dari dinding-dindingnya.

“San, kita harus segera minta pertolongan. Lubang kita tertimbun guguran tanah dan dindingnya merembes air!”

Hasan yang mencangking tas kresek hitam yang tak kelihatan itu menjadi pucat dan diam. Tidak ada pikiran di kepalanya yang terlintas, kecuali trauma membayangkan betapa sesaknya di dalam, betapa takutnya terkunci di dalam. Ia seperti patung yang dipahat oleh kabar buruk itu. Diam dan beku.

Sarpin yang pendiam tampak sangat gelisah. Ia takut kalau-kalau nanti warga datang akan menimbulkan kegemparan, pasti akan muncul hal-hal yang tidak diinginkan. Ia juga takut kalau nanti ia dan teman-temannya dipersoalkan karena tambang ini tanpa izin alias liar.

“Pin, jangan mondar mandir begitu, dong. Tolong cari bantuan, jangan sampai teman-teman kita tidak bisa naik ke atas!”

“I … ya, i … ya,” sahut Sarpin ketakutan sekaligus kebingungan.

***
Bintang kelihatan kerlap-kerlip di langit. Hasan masih terduduk di dekat lubang. Air matanya menetes tak tertahan, tapi hatinya juga sedikit senang. Ia kasihan melihat Paman Wirya yang telah begitu baik kepadanya dan keluarganya ikut tertimbun longsoran tanah. Tapi ia merasa dendam sakit hatinya pada Mang Arya telah lunas, walaupun di sisi lain ia juga merasa kasihan pada nasib Mang Arya dan keluarganya. Ia kembali teringat ibu, bapak, dan Mbah Dullah.

“Andaikan bapak masih ada, tentu saja aku tak dibiarkan ikut kerja nambang dan turut menyaksikan kematian Paman,” gumam Hasan.

“Andaikan Mbah Dullah berumur panjang, mungkin saja ia akan meminta pada bapak dan ibuku agar aku mondok saja ke Babakan, Cirebon,” gumam Hasan lagi.

Sehabis Subuh itu, warga dan ketua RT sudah datang, ada yang terdengar menelepon polisi. Tidak lama kemudian polisi datang, juga beberapa penambang yang beristirahat mendekat berupaya melakukan penyelematan pada saudara senasib mereka. Parjan ikut bersama beberapa penambang masuk ke lubang untuk mengeruk tanah yang menutup lubang itu. Sarpin telah minggat entah ke mana karena takut dapat perkara.

Matahari cerah menghitung bayangan orang yang berbaris di dekat lubang yang telah ditutup itu. Bunga telah ditabur. Nama telah ditulis di nisan. Delapan orang jumlah penambang telah ditetapkan terjebak di perut bumi dan tidak dapat diselematkan.

Hasan ikut berdiri di sana, menabur bunga bercampur air mata untuk Paman Wirya yang telah mencegahnya terkubur bersama di lubang kelam yang kini ditutup selamanya. Kiai Masruri berdiri di dekat lubang yang ditutup itu, memimpin membacakan tahlil dan doa bersama. Langit tetap cerah seperti tidak mengerti kejadian ini. Tapi Hasan masih tampak menangis, kesedihan kehilangan telah menambang begitu banyak duka di dadanya.

*Cerpen peserta Lomba Karya Tulis Ekologi Kaum Santri 2024.

Tinggalkan Balasan