Menanamkan Jiwa Mendidik

Pekerjaan guru adalah “hardware“, sedangkan jiwa guru adalah “software“. Bekerja sebagai guru itu bungkus, sedangkan berjiwa guru itu isinya. Orang-orang yang berseragam dari pagi hingga siang di sekolah-sekolah, belum tentu jiwa yang bersemayam adalah jiwa seorang guru. Tidak menutup kemungkinan jiwanya adalah pedagang tapi pekerjaannya guru.

Begitu pun sebaliknya. Orang-orang yang pekerjaannya menjual bakso, tukang tambal ban atau kuli bangunan, ada kemungkinan jiwanya adalah jiwa seorang guru. Pekerjaannya saja yang bukan guru (Radar Madura Jawa Pos, 24 Desember 2017).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Baginya, menjadi guru itu mudah. Asalkan syarat administratif calon seorang pengajar dipenuhi, maka legalitas formal sebagai guru sudah resmi disandang. Dengan menyandang status guru, maka secara otomatis terikat dengan standart profesionalitas profesi. Mulai dari aturan pemenuhan beban mengajar, tumpukan bahan pengajaran hingga pelatihan metode mengajar.

Tapi, guru sebagai panggilan jiwa justru tidak mudah. KH Zulfa Mustofa (Wakil Ketua Umum PBNU) dalam ceramahnya di Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Sukowono, Jember, pada 10 Oktober 2022 lalu, mengatakan, “At-thariqah ahammu minal maddah, wa ruhul ustaz ahammu minat thariqah.” Kira-kira artinya seperti ini, “Metode mengajar lebih penting dari materi pelajaran, tapi jiwa guru jauh lebih penting dari metode mengajar.”

Jika kita berbicara dengan orang lain, maka cara kita berbicara lebih penting dari apa yang kita bicarakan. Serta, niat kita dalam berbicara masih jauh lebih penting dari cara kita berbicara.

Tinggalkan Balasan