Mendung Hitam Itu Seperti Bayangan Bapak

Setiap ada awan hitam, seperti ada bayangan bapak sedang memukuli ibu. Saat itulah aku mulai gelisah.

Aku berbaring di ranjang, berusaha untuk tidur, tapi tidak bisa. Terdengar ada suara rintik hujan jatuh ke genting.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku terbangun saat air menerobos genting mengenai rambutku. Hujan sudah turun setelah beberapa saat setelah aku mulai berusaha memejamkan mata. Mataku terasa sepat dan berat sebab semalam aku belum tidur sama sekali. Aku membuka jendela, melihat angin sedang ribut, petir-petir menggelegar, berkilat-kilat.

Hujan turun begitu deras. Pohon-pohon bergoyang-goyang. Dari jendela, aku teringat kepada guru mengajiku, belasan tahun yang lalu, saat aku dan teman-teman duduk melingkar di surau. Namanya Mbah Karim. Dia bilang jika ada hujan deras dan angin ribut “azanlah.”

Kurang lebih seperti itu. Melihat angin gaduh disertai hujan deras di halaman rumahku, maka aku segera mengais-ngais ingatanku tentang lafaz azan.

Aku mulai azan dengan suara terbatuk-batuk, karena tenggorokanku gatal. Aku melihat awan bergulung-gulung berwarna hitam menggantung di langit. Di tengah-tengah azan, tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Saat itulah, suaraku mulai rendah, pikiranku sudah tidak berkonsentrasi lagi. Akhirnya, azan tidak sampai selesai, lalu duduk di amben sambil termangu.

Kemudian kenangan-kenangan pahit terbesit di dalam kepalaku. Hujan mengantarkanku pada ingatan-ingatan yang seharusnya tak perlu aku ingat. Tiba-tiba, ingatan tentang kematian ibu, tentang bapak muncul tanpa izin.

Aku masih berusia enam tahun saat ibu bunuh diri. Tetapi saat itu, aku tidak percaya sepenuhnya jika kematian ibu karena bunuh diri. Meskipun, bukti menunjukkan bahwa di samping ranjang ibu ada racun tikus.

Sementara itu, hujan semakin deras. Aku melihat dan mendengar petir menyambar pohon asam di depan rumahku. Begitu menakutkan. Aku berlari di ke teras. Gumpalan awan hitam menggantung di langit, seolah-olah awan hitam itu seperti bayangan bapak dan ibu.

Bapak mengatakan bahwa ibu bunuh diri karena sudah tidak sanggup menjalani hidup dengan penyakit vertigonya yang sewaktu-waktu bisa kumat. Tetapi, aku melihat di pundak ibu ada luka lebam. Luka di dahinya juga belum kering.

Aku sering melihat mereka berdua bertengkar. Kata ibu, bapak main serong dengan janda seberang. Ibu sering diberitahu oleh para tetangga bahwa bapak sering main ke warung janda itu. Bahkan tidak hanya satu atau dua tetangga yang melihat pengkhianatan bapak, tetapi sudah banyak tetangga yang bilang.

Rumah tangga ibu dan bapak semakin meruncing. Tidak ada lagi ketenteraman. Aku hanya bisa melihat mereka cekcok dan aku tidak tahu cara menghentikannya. Di dalam hatiku, ada perasaan sedih sekaligus kesal.

Awalnya ibu sedikit tidak percaya dengan omongan tetangga. Tetapi telinga ibu seperti dikerumuni lebah karena banyak tetangga yang menggunjing bapak. Bahkan, suatu hari bapak tidak pulang ke rumah kemudian ibu mencarinya. Ternyata bapak di warung itu.

Tinggalkan Balasan