Tapi itulah hari terakhir Ngatinah melihat punggung Iman yang sedang menggowes ringan sepedanya meninggalkan pekarangan rumah. Dan sejak sore itu, inilah malam pertama Ngatinah sulit memajamkan matanya, mengistirahatkan pikiran dan angan-angannya, sepanjang malam itu —dan malam-malam setelahnya.
Kabar Iman tak pulang sejak hari itu tanpa meninggalkan jejak dan pesan mulai tersebar, pertama-tama di lingkungan keluarga, dan kemudian menjadi pembicaraan orang sedesa. Sanak keluarga dan orang-orang sedesa silih berganti berdatangan. Mereka ingin mendengar langsung dari Ngatinah dan Wagiran kenapa tiba-tiba Iman menghilang seperti ditelan bumi.

“Tak ada tanda-tanda. Tak ada yang mencurigakan. Semua biasa saja. Aku juga tak tahu kenapa tiba-tiba Iman pergi begitu saja,” kata Ngatinah sambil mengusap air mata di hadapan orang-orang yang datang untuk bersimpati.
“Apa ada pertengkaran atau perselisihan sebelumnya dengan anggota keluarga,” ada yang bertanya seperti ini.
Ngatinah, juga Wagiran, selalu menggeleng. “Dia anak baik. Selalu menerima keadaan. Dia tak mau menjadi penyebab, juga selalu menghindari, perselisihan,” tutur Wagiran.
Juga tak beralasan jika ada yang menduga kepergian Iman tersebab pembagian warisan yang tak adil. Pasangan Wagiran dan Ngatinah memang tergolong keluarga kaya di desanya. Sawahnya luas dan ada di beberapa lokasi. Rumahnya besar di atas pekarangan yang luas. Juga punya beberapa bidang tanah di desanya. Semua anak sudah diberi bagian masing-masing dengan cukup adil. Dan sebagai anak bontot, Iman diberi hak dan tugas untuk meninggali rumah orang tuanya itu.
“Mungkin dia ingin nikah tapi belum mendapat restu?” beberapa orang mengajukan pertanyaan demikian. Lagi-lagi Ngatinah, juga suaminya, menggeleng. “Iman itu, loh, orangnya pemalu. Malah sekarang jadi pendiam. Tak pernah ngomongin perempuan. Belum kepikiran kawin juga. Itu pernah aku tanya, dia menggelang,” jawab Ngatinah.
Semua orang kemudian membantu Ngatinah mencari-cari Iman dengan berbagai cara. Ada yang bertugas mendatangi atau menghubungi saudara-saudaranya, di mana-mana. Ada yang menghubungi teman dan kenalan Iman di berbagai tempat. Ada yang mendatangi pesantrennya, kalau-kalau Iman kembali ke pondok. Setiap orang yang dianggap kenal dengan Iman saling mengajukan pertanyaan: pernahkan bertemu Iman, atau berpapasan dengannya, atau sekadar melihatnya, kapan dan di mana?
Semua nihil. Tanpa hasil. Tak ada petunjuk apa pun.
Ketika waktu terus bergulir dan masih tak ada kabar apa pun perihal keberadaan Iman, beberapa kiai, dan juga orang pintar, didatangi. Mereka dimintai petunjuk akan keberadaan Iman. Tapi semua gelap. Tak ada tabir tersingkap. Ada orang pintar yang pernah buka mulut, tapi samar-samar: ia masih hidup, dan berada di suatu tempat. Hanya itu!
Pernah ada orang yang mengaku suatu hari melihatnya di suatu tempat yang jauh, tapi ketika ditelisik di daerah yang ditunjuk, tetap tak ada jejak akan keberadaan Iman. Cerita tentang ada orang yang pernah melihat Iman sering muncul dan tersebar pada tahun-tahun setelah kepergiannya, tapi semuanya hanyalah kabar burung.
