Mencari Iman yang Hilang

Menjalani tahun-tahun dengan memendam penasaran akan keberadaan Iman tentu tak mudah bagi Ngatinah dan Wagiman. Wagiman-lah ternyata yang lebih dulu tak kuasa menanggung beban selama ditinggalkan Iman. Tubuhnya ambruk dan jatuh sakit. Dalam waktu lama ia hanya tergolek di ambin, dan matanya lebih sering menerawang ke langit-langit kamar.

“Ikhlaskanlah anakmu, Pakne, entah sekarang masih hidup atau sudah mati.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kedua pasangan suami-istri itu tubuhnya terlihat semakin ringkih dimakan usia.

“Ya, kita memang harus ikhlas. Aku hanya ingin tahu, kalau masih hidup di mana tinggalnya; kalau sudah mati di mana kuburnya. Itu saja.”

“Itu belum ikhlas namanya.”

Itu pembicaraan terakhir Ngatinah dengan suaminya. Sejak itu, Ngatinah kemudian hidup sebatang kara, di rumah yang diperuntukkan bagi Iman. Sesekali anak-anaknya, atau cucu-cucunya, datang berkunjung. Sekali waktu mereka mengajak Ngatinah tinggal bersama anak-anak, dan ikut momong cucu-cucunya. Tapi Ngatinah selalu menggelang. Ia mengaku akan tetap tinggal di rumahnya sampai Iman datang.

Orang-orang sekitar juga mulai jarang melihat Ngatinah keluar rumah, kecuali saat surup tiba sambil menunggu alunan azan maghrib berkumandang dari masjis seberang jalan. Setelah gelap, tak terlihat lagi sosok Ngatinah yang duduk mematung di bangku panjang emperan rumahnya.

***

Sudah lebih dari tiga puluh tahun sejak kepergiannya, jejak Iman tak pernah terendus. Jika masih hidup, kini usianya lebih dari enam puluh tahun. Lebaran ini saya melintas di depan rumah bude saya itu setelah bersilaturahmi ke rumah saudara-saudara.

Rumah Iman itu kini suwung dengan pintu yang selalu terbuka, seperti masih setia menunggu Iman kembali pulang.

Tinggalkan Balasan