Untuk menghindari terulangnya bencana ekologis seperti yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat di pengujung tahun 2025, mendesak untuk dilakukan penataan ulang relasi antara manusia dengan alam.
Hal tersebut mengemuka dalam Majelis Nyala Purnama #9 yang dilaksanakan di gedung Makara Art Center (MAC) Universitas Indonesia (UI) di Depok, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026) malam. Majelis Nyala Purnama kali ini mengangkat tema “Tahun Baru, Semangat Baru, Wajah Baru: Menata Ulang Relasi Manusia dan Alam”.

Acara yang diselenggarakan Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia ini terdiri dari beberapa sesi, yaitu orasi budaya, pentas musik dan tari, pembacaan puisi, dan meditasi. Sejumlah narasumber yang hadir, di antaranya Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al Zastrouw, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Prof. Dr. Tito Latif Indra, S.Si, M. Si, Arsitek Yori Antar, Pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani, dan Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan. Acara ini juga dimeriahkan musisi Dima Miranda dan kelompok musikalisasi puisi Swara SeadaNya.
Dalam sambutannya, Ngatawi Al-Zastrouw menegaskan bahwa tahun baru 2026 harus menjadi momentum untuk melakukan muhasabah (introspeksi) baik secara individual maupun sosial. Menurutnya, bencana ekologi Sumatera yang terjadi menjelang akhir tahun merupakan bahan muhasabah penting yang menuntut kita melakukan koreksi atas relasi manusia dengan alam dan lingkungan.
“Pola relasi yang eksploitatif dan menjadikan alam sebagai objek pemuas nafsu serakah telah menimbulkan bencana yang menuntut korban jiwa dan harta benda. Lewat Majelis Nyala Purnama, kami ingin menata ulang relasi alam dan manusia yang lebih harmonis dan seimbang sehingga sehingga tercipta hubungan saling menjaga antar keduanya, sebagaimana yang diajarkan para leluhur Nusantara melalui berbagai tradisi yang sarat dengan nilai-nilai yang penuh kearifan,” ujarnya.
Sementara itu, dalam orasi budaya, Tito Latif Indra memastikan bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi akibat kondisi geologis, geografis, dan klimatologisnya. Selama ini, menurutnya, penanganan kebencanaan cenderung didominasi oleh pendekatan teknokratis dan berbasis respons darurat. Namun, pengalaman empiris menunjukkan bahwa banyak komunitas lokal di Indonesia memiliki kemampuan adaptif yang kuat terhadap bencana melalui sistem budaya dan kearifan lokal yang berkembang secara turun-temurun.
“Pulau Sumatera dalam beberapa dekade terakhir mengalami peningkatan signifikan kejadian bencana ekologis berupa banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Bencana-bencana tersebut tidak dapat dipahami semata sebagai peristiwa alam, melainkan sebagai manifestasi dari degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS), perubahan iklim, serta paradigma pembangunan yang belum sepenuhnya memperhitungkan daya dukung lingkungan,” ungkap Tito Latif Indra.
Tito juga mengkaji peran budaya Indonesia dalam membentuk ketangguhan masyarakat terhadap bencana, serta bagaimana kearifan lokal dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif berbasis kajian literatur dan studi kasus, ia menunjukkan bahwa budaya tidak hanya berfungsi sebagai identitas sosial, tetapi juga sebagai sistem pengetahuan dan mekanisme mitigasi bencana yang efektif.
“Integrasi antara ilmu kebencanaan modern dan kearifan lokal menjadi kunci dalam membangun sistem kebencanaan yang berkelanjutan dan kontekstual di Indonesia,” jelasnya.
Setelah orasi budaya Tito, arsitek Yori Antar bercerita tentang kiprahnya dalam melestarikan arsitektur tradisional Indonesia, termasuk tentang Uma Nusantara, yaitu yayasan yang ia dirikan untuk fokus pada upaya penyelamatan dan pembangunan kembali rumah-rumah adat yang hampir punah di berbagai pelosok Indonesia.
“Melalui Uma Nusantara, kami menginisiasi konsep ‘Rumah Asuh’, di mana arsitek modern dan donatur bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk membangun kembali rumah adat menggunakan teknik tradisional agar pengetahuan lokal tidak hilang,” ujar Yori dalam paparannya. Yori juga menekankan pentingnya mempertahankan identitas lokal agar arsitektur tradisional tidak punah di tengah modernitas.
Pada bagian lain, Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan menegaskan kemendesakan penataan ulang relasi antara manusia dengan alam. Satu di antaranya dengan pembangunan berbasis kearifan lokal. “Menata ulang relasi antara manusia dan alam menjadi semakin mendesak, di mana rumah adat Nusantara hadir sebagai solusi konkret berbasis kearifan lokal. Lebih dari sekadar hunian fisik, arsitektur tradisional Indonesia mencerminkan filosofi hidup berkelanjutan yang memuliakan ekosistem sekitar melalui penggunaan material alam dan struktur adaptif bencana,” tuturnya.
Selain para narasumber, Majelis Nyala Purnama kali ini juga dimeriahkan oleh musisi Dima Miranda yang membawakan lagu-lagu baladadan. Selain itu, ada kelompok musikalisasi puisi Swara SeadaNya yang juga tampil setelah sesi paparan narasumber dengan membawakan komposisi musik “Kala Sang Surya Tenggelam” karya Guruh Soekarnoputra yang digabungkan dengan puisi karya Ayie Suminar.
Di sesi terakhir, Dr. Turita Indah Setyani dari Urban Spiritual Indonesia memimpin meditasi di bawah sinar bulan purnama sambil membawa harapan semoga di tahun yang baru ini kita semua dapat meraih kualitas hidup yang lebih baik.
