Menjelang tahun baru Mbah Dibyo nampak bersih-bersih rumahnya, seakan ada tamu agung yang akan datang. Debu-debu yang sudah lama menyatu tak lagi dibiarkan menempel di kursi, meja, lantai hingga dinding rumahnya, dia enyahkan seakan setiap butirnya adalah nista. Sampah daun jambu yang biasa berserakan dia bakar, rumput liar pun dia enyahkan hingga akarnya. Bohlam yang sudah lama mati dan yang redup pun digantinya. Semua itu dilakukan untuk menyambut kedatangan yang dia nantikan selama ini, yakni kematian.
Dia begitu yakin pada mimpinya, kalau dia akan mati pada malam tahun baru. Dalam mimpimya itu malaikat datang, tanpa jubah tanpa sayap, malah mirip sales bank yang lagi menawarkan pinjaman pada guru honorer yang baru diangkat PPPK. Mbah Dibyo terbuai, terhanyut tutur kata yang lembut, tak seperti gambaran selama ini, kalau malaikat pencabut nyawa itu seram, dingin dan bengis.

“Saya tahu Mbah Dibyo sudah lama menunggu saya datang, dan saya juga tahu kalau menunggu itu membosankan. Tapi mau bagaimana lagi, ketetapan Allah itu pasti, tak bisa dipercepat atau diperlambat!” ungkap malaikat dengan lembut.
“Oh ya tak apa-apa, saya ngerti, tak usah diambil hati, sampean kan kerja harus sesuai prosedur, sesuai data yang diberikan, memangnya manusia yang suka mengubah aturan sesuai kepentingan he he he he…!” Mbah Dibyo terkekeh hingga batuk menghentikannya.
“Wah, jangan ajak saya ngobrol ngelantur Mbah. Tugas saya banyak. Hari ini saja saya dapat tugas menjemput seratus dua puluh satu nyawa di ibu kota. Makanya saya harus buru-buru, tak boleh meleset waktunya, apalagi salah orangnya!”
“Berat juga ya jadi malaikat, saya kira santai!”
Lalu malaikat itu pun lenyap, menyatu dengan udara, hanya meninggalkan aroma wangi yang masih tercium ketika Mbah Dibyo terjaga dari tidurnya.
****
Pagi harinya Mbah Dibyo langsung melapor ke Pak RT. Seperti biasa, Pak RT dengan sigap melayani warganya. Sebelum didengar laporannya, dia langsung membuka buku catatan laporan dan pulpen yang dipegangnya siap menuliskannya.
“Mau lapor apa, Mbah?”
“Saya mau lapor, kalau saya akan mati di malam tahun baru!”
Pak RT terdiam. Pulpen yang dipegangnya ditaruhnya di atas buku yang baru saja ditutup. Tapi tak lama kemudian, pulpen itu kembali diambilnya dan buku catatan laporan warga kembali dibukanya. Dia ingat sumpah jabatan seorang RT, kalau seaneh apapun laporan warga, harus dicatatnya.
“Penyebab matinya apa Mbah?”
“Malaikat.”
“Baik, Mbah, saya catat. Tapi soal koordinasi dengan penggali kubur dan pak ustaz saya akan lakukan pada hari H, dikuburkannya pada pagi hari, kan?”
“Agak siangan saja Pak, nunggu anak-anak saya datang, biar yang gali kubur juga santai, tapi kalau boleh saya dikuburnya di dekat kuburannya Si Narti ya Pak!”
“Loh! Kok nggak di samping kuburannya istri Mbah!”
Mbah Dibyo tersenyum, “Narti itu mantan pacar, Pak, di alam sana biar giliran dia yang dekat saya!”
Pak RT menghela napas sambil geleng-geleng kepala, baru kali ini dia mencatat jadwal kematian warganya. Lalu tak lama kemudian Mbah Dibyo pun pamit, meninggalkan Pak RT yang masih duduk sambil menatap Mbah Dibyo hingga hilang dari penglihatannya.
Sebelum sampai rumahnya, Mbah Dibyo mampir ke tetangga-tetangganya. Dia mohon pamit sekaligus meminta maaf. Tetangga-tetangganya terlihat memaklumi, tersenyum dan sedikit berbasa-basi, sama-sama minta maaf dan berharap Mbah Dibyo masih panjang umur. Namun setelah Mbah Dibyo tidak ada, mereka ada yang tertawa, geleng-geleng kepala, sharing di facebook dan group Whatsaap dengan emoji ngakak.
