Tafsir yang kita anggap suci selama ini tidak sepenuhnya putih. Ada banyak tafsir yang menyeleweng dengan berbagai kepentingan, dan ini nyata adanya. Dalam buku ini, penulis membahas perkembangan, motif, dan bentuk dari kritik tafsir itu sendiri dalam sejarah tafsir Quran. Sebagai pembuka adalah terjadinya intraksi antara Nabi dan kaum Yahudi (ahli kitab) atau kaum Yahudi memeluk agama Islam, yang menjadi asal muasal israiliyat masuk ke ranah literasi Islam.
Di sisi lain, faktor politik dan kekuasaan sangat memberi pengaruh terhadap ayat ayat tertentu. Perpindahan kekuasaan setelah Khalifah Utsman bin Affan ke Ali bin Abi Thalib sangat nampak jelas. Pada periode itu terjadi banyak pemalsuan hadis dan sebagainya. Kondisi ini menjadi ruang bagi golongan yang tidak puas terhadap kepemimpinan khalifah dengan menyebar hadis palsu.

Dalam menafsiri Al-Quran, sumber otentik adalah Al-Quran itu sendiri. Setiap kata atau ayat di dalamnya saling terhubung, saling melengapi. Kita tidak bisa mengambil satu ayat dan menafikan ayat lain demi kepentingan pribadi. Posisi kedua adalah hadis. Nabi sebagai sumber dari keduanya adalah orang yang paling paham terhadap ayat Al-Quran. Para sahabat juga sangat berperan dalam perkembangan tafsir. Ada beberapa sahabat yang memang sangat paham betul terhadap ayat tertentu.
Banyak dari kalangan sahabat berbahagia terhadap surat tentang kemenangan Islam. Namun, salah satu sahabat sedih karena ketika Islam sudah sampai pada puncak kemenangannya, maka bisa dipastikan tugas Nabi selesai dan sebentar lagi mereka akan berpisah dengan orang yang sangat mereka cintai. Ini menjadi bukti kuat jika para sahabat semisal bintang, seperti sabda Nabi.
Perihal lain, yakni perbedaan mazhab, fanatisme mazhab. Perbedaan adalah suatu kepastian, manusia tidak bisa menghindarinya. Namun, munculnya beragam sekte dan mazhab menjadi bumerang bagi umat Islam. Mereka tidak segan-segan menjadikan Al-Quran sebagai justifikasi terhadap ajaran mereka (hlm 72).

So, menjadi sangat penting untuk menguasai ilmu alat agar ijtihad dlm menafsirkan suatu ayat tidak serampangan.