Menunggu Ratu Adil, yang Datang Suzzanna

Ketika bangsa ini sedang menunggu Ratu Adil, yang datang justru Suzzanna. Kembali menjelma sundel bolong, dia berhasil menyedot 3,3 juta orang ke bioskop untuk menonton aksi-aksi balas dendamnya.

Rumah tangga Suzzanna (Luna Maya) dan Satria (Herjunot Ali) awalnya bahagia. Kebahagiaan pasangan muda nan kaya ini memuncak ketika buah hati yang ditunggu-tunggu selama lima tahun akhirnya akan hadir ke tengah keluarga kecil mereka. Suzzanna hamil.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Betapa bahagia Satria mendengar penuturan sang istri tentang kehamilannya, ketika suatu pagi, Suzzanna memintanya pulang lebih cepat dari kantor. Suzzanna kemudian meminta Satria agar mengajaknya ke luar rumah demi mencari udara segar. Keduanya pun bersepakat pergi ke kantor tempat Satria bekerja.

Di sinilah konflik bermula. Jonal (Verdi Solaiman) dan Umar (Teuku Rifnu Wikana) sudah menunggu Satria di kantor. Setelah meminta izin sejenak kepada Suzzanna, Satria memanggil Jonal dan Umar ke ruangannya. Keduanya melapor, karyawan pabrik meminta kenaikan gaji lagi. Mendengar laporan mereka, Satria murka, karena gaji karyawan sudah dua kali dinaikkan dalam tiga bulan terakhir. Satria mengendus ini hanya akal bulus dua mandor itu di hadapannya.

Kesal setelah menemui Satria, Jonal dan Umar kemudian menenggak bir bersama Dudun (Alex Abbad) dan Gino (Kiki Narendra), dua karyawan lain di pabrik tempat mereka bekerja. Merutuki nasib masing-masing, keempatnya akhirnya berembuk untuk merampok rumah Satria. Ketika Satria berangkat ke Jepang untuk sebuah tugas perusahaan dan rumahnya sepi karena Suzzanna sedang menonton layar tancap bersama tiga pembantunya, keempatnya pun beraksi.

Namun aksi jahat itu tak semulus yang mereka rencanakan. Belum selesai mereka menggondol barang-barang berharga di rumah pasangan kaya itu, Suzzanna memergoki aksi mereka. Suzzanna yang pulang tanpa tiga pembantunya akhirnya mati di tangan komplotan itu. Suzzanna menjelma arwah penasaran yang terus bergentayangan di alam nyata demi menuntut balas atas kematian dirinya, kematian anak yang dikandungnya, serta kehancuran rumah tangganya.

Begitulah sutradara Anggy Umbara dan Rocky Soraya meramu Suzzanna Bernapas dalam Kubur, film yang diproduksi oleh Soraya Intercine Films. Di awal film dijelaskan, film ini dibuat untuk mengenang Suzzanna Martha Frederika van Osch, sang legenda dalam sejarah film horor Indonesia yang meninggal dunia pada 15 Oktober 2008. Selain urusan kenang-mengenang, tentu juga karena tren film-film reinkarnasi sukses mendulang pundi-pundi rupiah beberapa tahun terakhir. Film Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss! (Bagian 1, 2016), misalnya, berhasil meraih 6.858.616 penonton, dan 4.206.103 penonton untuk Pengabdi Setan (2017).

Judul film Suzzanna Bernapas dalam Kubur diadaptasi dari dua film yang pernah dibintangi Suzzanna, Bernafas dalam Lumpur (1970) dan Beranak dalam Kubur (1971). Meski bukan pengulangan atau sekuel dari dua film tersebut, film ini tetap saja tidak bisa keluar dari simbol-simbol keduanya. Adegan hantu Suzzanna memakan bunga, misalnya, juga adegannya bermain piano sebagaimana terdapat dalam film-film Suzzanna sebelumnya, masih saja dipertahankan.

Dengan memakai wajah prostetik yang dibuat Tatiana Melkomova dan Peter Gorshenin dari Rusia, Luna Maya dipermak semirip mungkin menjadi Suzzanna. Begitu juga dalam gerakan maupun ucapannya. Meski, Luna tetap terlalu tinggi dan terlalu langsing untuk memerankan aktris legendaris itu. Herjunot Ali juga memaksimalkan diri berperan sebagai Satria walau aktingnya masih tampak sebagai sosok Zainuddin dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013).

Plot film ini pun mudah ditebak. Keluarga bahagia  Suzzanna diusik komplotan penjahat, Suzzanna terbunuh saat hamil, kemudian dia menuntut balas atas kematiannnya; kematian bayi yang dikandungnya; juga kehancuran keluarganya. Pengadeganan juga sering tidak meyakinkan, misalnya saat Suzzanna terbunuh tanpa sengaja di tangan Dudun. Dengan adegan semacam itu, seruas bambu yang dipegang Dudun mustahil bisa menusuk perut Suzzanna begitu dalam. Meski tidak sekeras batu, tubuh manusia juga bukan puding yang mudah ditembus benda dengan tekanan tidak seberapa. Dengan adegan itu, Suzzanna mestinya hanya luka saja.

2 Replies to “Menunggu Ratu Adil, yang Datang Suzzanna”

Tinggalkan Balasan