Dakwah-dakwah keislaman yang santun, toleransi, mudah dipahami, dan mencerdaskan harus bisa disampaikan dengan singkat, padat, dan tidak menimbulkan perdebatan oleh content creator yang berasal dari kalangan pesantren.
Hal ini tidak mudah. Banyak hal yang perlu dipelajari terlebih dahulu. Mulai dari literasi digital, algoritma, hingga menyiapkan konten dakwah yang bisa diterima oleh pasar media sosial.

Saya kira alasan kuat lainnya kenapa santri harus menjadi seorang content creator karena perkembangan zaman dan dominasi masyarakat yang haus akan ilmu keagamaan cukup besar. Bagi mereka yang tidak memiliki waktu atau sudah bukan saatnya lagi mondok pesantren, entah karena usia, tuntutan pekerjaan, dan kesibukan lainnya, solusi untuk kebutuhan batin/pengetahuan seputar keislaman adalah dari media sosial.
Jika di media sosial kita sering melihat dan mendengar tren tertentu seperti culture anak Jaksel, tren hijrah, atau yang lainnya, mengapa kita para santri tidak bisa membuat trend campaign tertentu yang bisa mudah diterima masyarakat media sosial? Misalnya, tren menjadi seorang santri, tren Islam ramah atau Islam fun, dan yang lainnya.
Selain ilmu keagamaan dan kebangsaan, saat ini santri juga harus dibekali ilmu digital seperti copywriting, video editing, campaign, hingga IT. Sebab, keinginan dan kebutuhan masyarakat dalam hal keagamaan sering berjalan bersamaan dengan kemajuan teknologi yang menawarkan banyak kemudahan.
