Awalnya ibu bisa memaafkan bapak. Tetapi, bapak mengulangi kesalahannya lagi. Dari situlah keretakan rumah tangga kedua orang tuaku di ujung tanduk. Tetapi tak banyak yang bisa dilakukan ibu. Ibu sendiri tidak punya sanak keluarga, hidup sebatang kara. Ia tetap bisa bertahan meski itu menyakitkan. Lagi pula, ia ingin mempertahankan rumah tangganya demi aku.
“Tolong hargai aku sebagai perempuan,” ucap ibu sambil menangis. Tetapi hal tidak digubris oleh bapak.

Ketika aku melihat bapak sedang memukul ibu, hatiku bagaikan tersayat pisau tajam. Bapak seperti kerasukan setan saat menganiaya ibu. Waktu itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain memendam amarah atas perilaku bapak. Hatiku hancur melihat ibu babak belur.
Malangnya nasib ibu, setelah ibu meninggal, lantas orang-orang tidak mau merawat jenazahnya. Menurut mereka, bagi orang yang mati bunuh diri, jenazahnya tidak perlu dirawat.
Di usiaku yang masih enam tahun, aku memberanikan diri untuk mengatakan bahwa ibu bukan mati bunuh diri. Orang-orang melongo. Semua mata tertuju padaku.
“Apa yang kau katakan!” ucap bapak bernada tinggi.
Pelupuk mataku menggenang. Mataku menatap bapak dengan penuh kebencian. Orang-orang mengisyaratkan agar aku mengucapkan sesuatu. Dada sesak dan mataku terasa panas.
“Ibu dibunuh. Ibu diracun!”
Setelah itu, sebuah tangan perkasa mendarat di pipiku. Terasa panas dan ngilu. Beberapa orang mengadang bapak untuk tidak terus-terusan memukuliku. Bapak terus mengucap sumpah serapahnya, mengutuki anaknya sendiri. Ia bilang, aku adalah anak setan, babi, asu buntung, anak lonte.
Hal itulah yang membuat kenangan-kenangan buruk tentang bapak berubah menjadi sebuah gumpalan awan hitam, membentuk angin puting beliung di dadaku. Sampai kapan pun, peristiwa itu tidak bisa terhapus dari ingatanku.
Ketika bapak pulang ke rumah dalam kondisi mabuk, ia benar-benar seperti kerasukan setan. Ibu sering kali hampir terbunuh oleh kebengisan bapak. Minuman keras telah meracuni akal sehat bapak sehingga ia berani mencekik leher ibu. Untung ibu bisa melepaskan diri dari cengkeraman bapak dan berlindung di bahu nenek.
Sering kali, aku melihat ibu dan bapak bertengkar hebat. Puncaknya ketika tiga hari sebelum ibu meninggal, setelah bapak tidak pulang ke rumah selama dua hari.
Aku pun sebenarnya tidak mau mengingat-ingat lagi kejadian ibu dianiaya bapak, tetapi, ingatan itu selalu muncul di waktu-waktu tertentu. Aku ingat, bibir ibu berdarah akibat lemparan sepatu. Dan bapak berteriak-teriak, berkata kasar mengutuk Ibu.
“Perempuan tidak berguna. Dasar perempuan pincang!” teriak bapak.
