Meski menjabat sebagai penguasa tertinggi Dinasti Umayyah, hidupnya jauh dari hedonisme. Alih-alih tinggal di istana yang mewah nan megah, Umar justru memilih mendirikan tenda sebagai tempat tinggalnya.
Ia melawan tradisi keluarga kerajaan Umayah, di mana raja baru akan mengumpulkan harta penguasa sebelumnya untuk kemudian dibagi-bagikan kepada sanak famili kerajaan. Umar lebih memilih menyerahkan seluruh harta tersebut ke baitul mal yang difungsikan sebagai kas negara.

Secara radikal, ia mengoreksi dan mengubah semua kebijakan-kebijakan pendahulunya yang represif dan merugikan rakyat. Umar mengembalikan semua barang, properti, dan lahan yang diambil dari rakyat secara ilegal. Bahkan aset-aset para pejabat dan keluarga istana hasil kejahatan politik disita dan dikembalikan kepada rakyat. Praktis, tindakan politiknya menjadikan ia sebagai sosok yang populer dan sangat dicintai di kalangan rakyat, sekaligus menjadi sosok yang sangat dibenci di kalangan para pejabat dan para penghuni istana.
Umar bin Abdul Aziz juga dikenal sebagai pemimpin jujur yang sangat anti menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi maupun keluarganya. Bahkan, sebatang lilin di ruang kerja akan segera dipadamkan apabila sudah tidak ada tugas yang berkaitan dengan kepentingan negara.
Pernah, suatu ketika, Umar yang sedang bekerja, tiba-tiba mendengar suara ketukan pintu. Setelah mengetahui bahwa orang yang berada di balik pintu adalah anaknya, ia segera memadamkan lilin yang tengah dipakai. Seketika, ruangan menjadi gelap gulita. Setelah putranya mepertanyakan tindakannya, Umar beralasan lilin itu dibeli dengan kas negara, maka tidak sepatutnya digunakan untuk keperluan pribadi dan keluarga.
Masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz memang tidak berlangsung lama, hanya sekitar dua tahun. Meski tergolong singkat, namun sejarah mencatat namanya sebagai sosok pemimpin sejati yang patut diteladani uswahnya. Pemimpin yang rela berkorban dan memilih hidup sederhana demi kesejahteraan rakyatnya.
Pemimpin Hari Ini
Hari ini, melalui kemudahan informasi di internet, dengan mudahnya rakyat menyaksikan para pejabat publik yang hidup dalam kemewahan, pergi ke mana-mana menggunakan fasilitas negara. Bahkan, sekadar untuk bertamasya yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan negara sekalipun. Tanpa merasa malu dan simpati terhadap penderitaan rakyat, mereka memamerkan kemewahan tersebut di media massa.
Sudah saatnya para pejabat di negeri ini memperbaiki diri dengan menjadikan dua Umar ini sebagai sosok inspirasi dan teladan. Rakyat sekarang sungguh sangat merindukan kemunculan sosok pemimpin seperti dua Umar yang tegas, berani, adil, bijaksana, sederhana, dan pro-rakyat.
